Skip to Content

DUA PANGGUNG, SATU KEBERANIAN

“Iman yang sejati tidak pernah bersembunyi dari dunia yang gaduh; ia tampil dengan berani, sebab Tuhan yang dipercayainya lebih besar dari segala ketakutan.”

November 2, 2026 by
DUA PANGGUNG, SATU KEBERANIAN
Admin
| No comments yet

“Iman yang sejati tidak pernah bersembunyi dari dunia yang gaduh; ia tampil dengan berani, sebab Tuhan yang dipercayainya lebih besar dari segala ketakutan.”

Sepuluh hari sebelum Festival Seni Pemuda GMIM digelar di Tomohon, bangsa Indonesia lebih dulu memperingati Hari Pahlawan tanggal 10 November. Dua peringatan itu jarang dipikirkan berdampingan, sampai Gloria, penata tari kompelka Pemuda di jemaatnya, diminta menggarap tarian kreasi untuk kategori tari FSPG dengan tema besar yang diusung panitia, keberanian yang lahir dari iman. Ia diberi waktu kurang dari dua minggu, dan sampai malam itu, gerakan tari yang ia bayangkan masih kosong di kepalanya.

Panggilan yang Datang Tiba Tiba

Gloria sebenarnya bukan penata tari utama di kompelkanya. Ia baru setahun belajar koreografi lewat video tutorial dan latihan bersama kakak kakak senior, jadi ketika namanya diumumkan sebagai penanggung jawab garapan tari untuk FSPG, ia sempat mengira ada kesalahan. “kiapa nda kakak Melda jo yang pegang, dia lebih senior,” protesnya ke ketua kompelka lewat pesan singkat malam itu juga.

Jawaban yang ia terima singkat tapi menohok, kakak Melda sedang sibuk skripsi, dan lagipula pengurus percaya Gloria sudah cukup mampu, tinggal soal mau atau tidak mencoba. Gloria duduk sendirian di ruang latihan yang sepi malam itu, mencoba merangkai gerakan, tapi semua terasa hambar. “kalu cuma iko gerakan biasa, ini tarian nda ada bedanya deng tarian buat acara ulang tahun,” gumamnya sambil mematikan lagu pengiring yang sudah diputar ulang lebih dari sepuluh kali. Ia ingin tariannya benar benar bercerita tentang keberanian, bukan cuma indah dilihat, tapi ia tidak tahu harus mulai dari mana.

Malamnya, pulang lewat depan tugu kecil di persimpangan kompleks yang selalu ramai dihias bendera merah putih setiap awal November, Gloria berhenti sejenak. Ia baru sadar selama ini tugu itu cuma jadi penanda arah pulang, tanpa pernah benar benar ia pikirkan siapa yang namanya terukir di sana, dan apa hubungannya dengan tarian yang harus ia selesaikan untuk panggung FSPG.

Memaknai Hari Pahlawan

Esok paginya, sekolah dekat rumah Gloria mengadakan upacara memperingati Hari Pahlawan. Ia sempat berhenti sebentar di pagar sekolah, mendengar sambutan kepala sekolah yang mengingatkan siswa tentang Pertempuran Surabaya, ketika pada 10 November 1945 arek arek Surabaya, dipimpin semangat pidato berapi api Bung Tomo, melawan pasukan Sekutu yang jauh lebih lengkap persenjataannya. Banyak dari mereka yang maju hari itu bukan tentara terlatih, melainkan pemuda biasa, pelajar, bahkan ada yang baru belasan tahun.

Yang membuat Gloria tertegun bukan jumlah korban atau kehebatan strategi perang, melainkan satu kalimat dari sambutan itu, bahwa keberanian mereka lahir bukan dari yakin akan menang, sebab secara logika mereka nyaris tidak mungkin menang, melainkan dari keyakinan bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari nyawa mereka sendiri yang harus dipertahankan. Gloria mulai berpikir, mungkin keberanian yang ingin ia tuangkan dalam tarian bukan soal gerakan gagah dan tegas semata, melainkan soal apa yang mendasari seseorang tetap maju walau tahu risikonya besar.

Ia teringat ayat yang sering dibacakan pendeta jemaatnya setiap kali membahas keberanian, dari 2 Timotius 1:7, “Allah memberikan kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban.” Bagi Gloria, Hari Pahlawan bukan sekadar mengenang orang orang yang sudah tiada, melainkan mengajak generasi sekarang bertanya, keberanian seperti apa yang masih relevan dihidupi hari ini, di ruang ruang yang jauh berbeda dari medan perang, termasuk di atas panggung seni.

Menyongsong FSPG

Festival Seni Pemuda GMIM sendiri bukan sekadar ajang unjuk bakat semata. Setiap tahun ratusan pemuda dari berbagai jemaat dan kompelka berkumpul membawakan musik, tari, teater, paduan suara, dan seni rupa, bukan untuk saling mengalahkan, melainkan untuk saling meneguhkan lewat karya. Bagi Gloria, memahami hal ini mengubah cara pandangnya terhadap tugas yang tadinya terasa berat, dari sekadar beban tanggung jawab menjadi kesempatan untuk bersaksi lewat gerak tubuh.

Ia kembali ke ruang latihan malam itu juga, kali ini dengan arah yang jelas. Bersama teman temannya, Gloria merombak koreografi, mengganti gerakan gerakan indah tanpa makna dengan gerakan yang menggambarkan seseorang yang gemetar, jatuh, lalu bangkit dan tetap melangkah maju, sebuah metafora sederhana dari kisah Opa Yohanis dan semangat Hari Pahlawan yang baru ia pahami lebih dalam.

Latihan latihan berikutnya terasa lebih hidup. Teman temannya yang tadinya sekadar menghafal hitungan delapan, mulai ikut merasakan cerita yang sedang mereka bawakan. Mereka berlatih sepulang sekolah dan kuliah, kadang sampai larut, memperbaiki detail demi detail, sambil sesekali bercanda soal siapa yang paling sering lupa hitungan, tapi semuanya sepakat, tarian ini harus jujur, bukan sekadar rapi secara teknik.

Menari dengan Berani di Panggung FSPG Tomohon

Tanggal 20 November, rombongan kompelka berangkat ke Tomohon, tempat FSPG dipusatkan tahun ini. Udara pegunungan yang sejuk dan berkabut menyambut ratusan pemuda dari berbagai jemaat yang sudah berkumpul sejak siang, memenuhi area festival dengan warna warni kostum dan suara latihan terakhir dari berbagai sudut.

Saat giliran tarian Gloria dipanggil naik panggung, tangannya dingin, jantungnya berdebar kencang, dan sesaat ia sempat ingin lari dari sisi panggung. Tapi ia teringat kata kata Opa Yohanis, tentang pos jaga dan iman yang menguatkan, juga sambutan Hari Pahlawan di sekolah yang mengubah cara pandangnya seminggu sebelumnya. Ia menarik napas panjang, menggenggam tangan teman temannya sebentar, lalu melangkah naik.

Lampu panggung menyala, musik mengalun, dan Gloria bersama teman temannya bergerak menceritakan seseorang yang jatuh lalu bangkit berulang kali, sampai akhirnya berdiri tegak di tengah panggung. Tepuk tangan panjang menutup penampilan mereka, dan salah satu juri sempat berkomentar bahwa tarian itu terasa jujur, bukan sekadar teknik yang rapi, melainkan sungguh sungguh menyampaikan cerita tentang keberanian yang lahir dari iman.

Sepulang dari Tomohon, Gloria menuliskan di catatannya bahwa Hari Pahlawan dan panggung FSPG ternyata mengajarkan hal yang sama, keberanian bukan berarti tidak pernah gemetar, melainkan tetap berdiri dan melangkah, di pos jaga maupun di atas panggung, karena percaya ada Tuhan yang menyertai setiap langkah itu.

Dua peringatan, satu keberanian, satu iman. Itu yang torang pe pemuda harus bawa pulang, dari panggung FSPG di Tomohon sampai ke panggung kehidupan sehari hari.

Ditulis oleh Redaksi OBOR

BAGIKAN TERANG

Bagikan renungan ini

Sign in to leave a comment