Skip to Content

BRAVE FAITH

“Iman yang sejati tidak pernah bersembunyi dari dunia yang gaduh; ia tampil dengan berani, sebab Tuhan yang dipercayainya lebih besar dari segala ketakutan.”

November 1, 2026 by
BRAVE FAITH
Admin
| No comments yet

“Iman yang sejati tidak pernah bersembunyi dari dunia yang gaduh; ia tampil dengan berani, sebab Tuhan yang dipercayainya lebih besar dari segala ketakutan.”

Pada 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, mengenang keberanian arek arek Surabaya yang pada tahun 1945 rela mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan yang baru seumur jagung. Pada bulan yang sama, tepatnya 20 hingga 22 November 2026, pemuda GMIM akan menggelar Festival Seni Pemuda GMIM, sebuah panggung bagi talenta musik, tari, teater, paduan suara, dan seni rupa untuk tampil dan bersaksi. Di titik pertemuan inilah tema bulan ini, Brave Faith atau Iman yang Berani, menemukan akar maknanya, pemuda GMIM dipanggil untuk memiliki keberanian yang lahir bukan dari kekuatan diri sendiri, melainkan dari iman yang teguh kepada Kristus, keberanian yang diwujudkan lewat karya, suara, dan karsa di atas panggung pelayanan.

Satu Keberanian, Satu Iman: Jejak Hari Pahlawan 1945

Sejarah mencatat bahwa Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 lahir dari seruan Bung Tomo yang membakar semangat arek arek Surabaya untuk melawan kekuatan yang jauh lebih besar. Mereka maju bukan karena yakin akan menang secara militer, melainkan karena yakin bahwa kemerdekaan yang telah diproklamasikan harus dipertahankan, sekalipun taruhannya adalah nyawa. Keberanian semacam itu tidak lahir dari perhitungan untung rugi, melainkan dari keyakinan yang lebih dalam tentang apa yang benar dan layak diperjuangkan.

Teolog Paul Tillich, dalam karyanya yang ia sebut the courage to be, menjelaskan bahwa keberanian sejati bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan kesanggupan untuk tetap berdiri dan menegaskan diri di tengah ancaman kecemasan dan ketiadaan makna. Bagi pemuda GMIM, keberanian semacam itu menemukan sumbernya bukan pada kekuatan diri sendiri, melainkan pada iman kepada Kristus yang memampukan mereka berdiri teguh, baik dalam pergumulan hidup sehari hari maupun dalam ruang ruang pelayanan yang menuntut mereka tampil dan bersuara.

Berani karena Beriman: Landasan Alkitabiah Keberanian

Alkitab berulang kali menegaskan bahwa keberanian umat Allah selalu berakar pada penyertaan-Nya, bukan pada kemampuan manusia semata. Dalam Yosua 1:9, Allah berfirman, “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan janganlah kecut hati, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau.” Pemazmur pun bersaksi dalam Mazmur 27:1, “Tuhan adalah terang dan keselamatanku, kepada siapa aku harus takut.” Rasul Paulus menambahkan dalam 2 Timotius 1:7 bahwa Allah memberikan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban, bukan roh ketakutan.

Bagi pemuda GMIM, ayat ayat ini bukan sekadar penghiburan di masa sulit, melainkan dasar untuk berani tampil dan berkarya. Naik ke atas panggung, menyanyikan lagu pujian, menarikan tarian yang penuh makna, memerankan sebuah kisah, atau memamerkan karya rupa, semuanya membutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Iman yang berani mengajarkan bahwa panggung pelayanan, termasuk panggung seni, adalah ruang yang sah untuk bersaksi tentang kebaikan Tuhan.

Missio Dei melalui Seni: Berkarya dengan Berani bagi Kemuliaan Tuhan

Teologi misi menegaskan bahwa missio Dei, misi yang pertama tama adalah milik Allah, dapat hadir dalam berbagai bentuk ekspresi, termasuk seni. Sejumlah teolog kontemporer mengembangkan apa yang mereka sebut theology of the arts, sebuah cara memandang seni bukan sekadar hiburan, melainkan sarana untuk menyingkapkan kebenaran, keindahan, dan kehadiran Allah di tengah dunia. Seni yang lahir dari iman menjadi jembatan yang menghubungkan kesaksian gereja dengan pergumulan manusia sehari hari, sebab keindahan sering menyentuh hati yang tidak selalu tersentuh oleh kata kata.

Festival Seni Pemuda GMIM yang akan berlangsung pada 20 hingga 22 November 2026 adalah wujud nyata dari panggilan ini. Melalui musik, tari, teater, paduan suara, dan seni rupa, pemuda dari berbagai jemaat dan kompelka diberi ruang untuk menyalurkan talenta sekaligus bersaksi tentang iman mereka. Festival ini bukan sekadar perlombaan atau hiburan semata, melainkan panggung pengutusan, tempat pemuda GMIM berani menampilkan karya terbaik sebagai persembahan bagi kemuliaan Tuhan.

Pemuda GMIM: Wajah Iman yang Berani bagi Gereja dan Dunia

Iman yang berani tidak boleh berhenti pada satu akhir pekan festival. Ia harus menjadi gaya hidup yang konkret. Pemuda GMIM dipanggil untuk berani bersaksi jujur di tempat kerja dan bangku sekolah, berani membela yang lemah, berani menyuarakan kebenaran, serta berani berkarya dan tampil dalam berbagai ruang pelayanan gereja. Penulis C. S. Lewis pernah menulis bahwa keberanian bukan sekadar salah satu keutamaan, melainkan bentuk teruji dari setiap keutamaan lain, sebab tanpa keberanian, kejujuran, kasih, dan kesetiaan hanya akan berhenti sebagai niat baik yang tidak pernah diwujudkan.

Rasul Paulus menulis dalam 1 Korintus 16:13, “Berjaga jagalah dan berdirilah dalam iman, bersikaplah sebagai orang yang dewasa dan teguh.” Pesan ini relevan bagi pemuda dari jemaat kota dan jemaat desa, dari kompelka dan wilayah pelayanan yang berbeda beda di seluruh Sulawesi Utara dan perantauan, yang akan berkumpul dalam Festival Seni Pemuda GMIM. Perbedaan latar belakang dan bentuk talenta tidak menjadi penghalang, sebab semuanya dipanggil untuk berdiri teguh dan berani menampilkan iman mereka lewat karya yang dipersembahkan bersama.

Peringatan Hari Pahlawan yang berdekatan dengan pelaksanaan Festival Seni Pemuda GMIM menjadi momentum yang tepat bagi pemuda untuk bertanya kembali, apakah keberanian yang dimiliki hari ini masih berakar pada iman yang teguh kepada Kristus, atau hanya menjadi keberanian semu yang mudah surut ketika keadaan sulit. Brave Faith mengajak setiap pemuda untuk menjawab pertanyaan itu bukan dengan kata kata, melainkan dengan karya, langkah kaki yang naik ke atas panggung, suara yang bernyanyi dan bersaksi, dan hati yang berani menyerahkan setiap talenta bagi kemuliaan Tuhan.

“Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu, kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan janganlah kecut hati, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau ke mana pun engkau pergi.” (Yosua 1:9)

Ditulis oleh Redaksi OBOR

BAGIKAN TERANG

Bagikan renungan ini

Sign in to leave a comment