BERBAHAGIALAH DAN KUDUSLAH MEREKA YANG MENDAPAT BAGIAN DALAM KEBANGKITAN | WAHYU 20 : 1 – 6 | Pdt. Belly F. Pangemanan, M.Th

Sobat Obor, Setiap orang pasti senang memilih jalan yang baik dan menyenangkan dalam hidupnya. Hampir tidak pernah kita menemukan orang yang bercita-cita untuk menderita dalam perjalanan hidupnya. Mengapa demikian? Mungkin karena setiap orang ingin bahagia ketika menghadapi kehidupan yang sedang dijalani.

Bagaimanapun, tidak mudah menyatakan komitmen atau tekad mau taat pada saat menderita. Apalagi penderitaan tak tertahankan. Lebih mudah kita mengeluh dan menggugat. Lebih gampang menyatakan kata “mengapa?”. Mengapa saya jadi miskin? Mengapa aku tidak bahagia? Mengapa tubuhku sakit begini rupa? Mengapa aku tidak sukses? Dan banyak lagi kata “mengapa”. Ketika di masa yang sulit dalam hidup kita, di titik terendah dalam hidup; apa yang kita lakukan? Begitu sering orang marah kepada orang lain, menyalahkan sana sini, marah kepada keadaan, dan tidak jarang marah kepada Tuhan.

Sobat obor, Kekristenan tidak bisa lepas dari simbol utamanya salib, yaitu salib Tuhan Yesus Kristus Kata ‘salib’ pun muncul dalam kaitan sebagai syarat untuk bisa jadi pengikut Yesus. Yesus ingin sekali lagi menegaskan bahwa Dia yang para murid ikuti tak hanya Yesus Sang Tabib Ajaib atau sang pembuat mujizat namun Mesias yang menderita. Ini adalah konsep baru yang sangat radikal dan tidak masuk akal! Berbeda dengan orang Yahudi yang mempunyai konsep tentang Mesias yang akan datang sebagai sosok seperti Raja Daud, yang akan melepaskan mereka dari penjajahan bangsa kafir. Namun Yesus adalah Mesias yang menderita, dan bukan hanya menderita tetapi harus mati disalib.

Di Kitab Wahyu kita hendak belajar bagaimana mereka yang setia menderita bersama dengan Tuhan Yesus tidak akan ditinggalkan. Kemenangan atas penderitaan diberikan Tuhan kepada umatNya. Wahyu 20:1-9 menjelaskan; Pertama, Penghukuman terhadap iblis (1-3). Kedua, pembenaran umat Tuhan (4-6). Sebagai Raja yang memegang kunci maut dan kerajaan maut (Psl 1:18), Tuhan Yesus memerintahkan salah satu malaikat-Nya yang memegang anak kunci jurang maut dan rantai besar di tangannya untuk menangkap dan mengikat Iblis lalu melemparkannya ke dalam jurang maut selama seribu tahun (20:1-2). Ini adalah ungkapan yang menjelaskan bahwa kuasa Iblis dibatasi. Sehebat-hebatnya iblis, tapi ketika berhadapan dengan Allah, mereka tidak berdaya. Ketika memulai pelayanan-Nya, Tuhan Yesus mengusir setan dengan kuasa Roh Allah. Pada puncak pelayanan- Nya yaitu saat Kristus mencurahkan darah-Nya di atas kayu salib kuasa Iblis dilucuti dan Iblis dikalahkan. Pelayanan Tuhan Yesus mengusir setan itu dihubungkan dengan datangnya kerajaan Allah (Matius 12:26). Dalam bacaan Alkitab hari ini, setan diikat dan orang percaya memerintah bersama Kristus selama seribu tahun (20:2-4). Olehnya kerajaan seribu tahun Ini tidak dipahami harafiah, tapi ada makna figurative, yang menggambarkan masa dimana iblis sudah kalah dan umat Tuhan dimuliakan.

Iman yang tak goyah itulah yang membuat kita mendapatkan kebangkitan di dalam Tuhan. Wahyu 20:4, 6 (TB) “Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Allah; yang tidak menyembah binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun. Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya.”

Sobat obor, Kita diingatkan bahwa pergumulan hanya sementara dan akan segera diambil dari kita. Kita diingatkan untuk tidak terikat pada dunia yang sementara ini dan mengarahkan diri kepada Tuhan. Jadi, bertahanlah dalam iman apapun keadaanmu. Bersandarlah kepada Tuhan selalu, sesulit apapun hidupmu, sehingga kita tidak akan lagi berkata: “Mengapa saya menderita?”, tapi akan berkata “Bagaimana saya menghadapinya”. Amin (BFP)