KEBAJIKAN YANG SEJATI | AMSAL 31:30-31
Sobat obor, Firman Tuhan ini mengajak kita untuk melihat melampaui apa yang terlihat di permukaan. Dunia ini sering kali mengagung-agungkan kecantikan fisik dan daya tarik luar. Media sosial, iklan, dan bahkan percakapan sehari-hari kita sering kali berfokus pada penampilan. Namun, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kecantikan itu fana dan bisa menipu. Kecantikan bisa pudar seiring waktu, dan keelokan bisa menutupi karakter yang rapuh. Lalu, apa yang seharusnya menjadi fokus kita? Firman Tuhan menjawab: takut akan TUHAN.
Takut akan Tuhan bukanlah rasa takut yang membuat kita gemetar karena hukuman, melainkan rasa hormat, kagum, dan ketaatan yang mendalam kepada Allah. Itu adalah pengakuan bahwa Dia adalah pencipta, penguasa, dan penyelamat kita. Perempuan/siapapun yang hidup takut akan Tuhan memiliki karakter yang kokoh. Ia akan hidup dengan integritas, kasih, dan hikmat. Pujian yang sejati datang bukan dari kata-kata kosong/pujian artifisial, tetapi dari perbuatan nyata. Pintu-pintu gerbang kota pada zaman Alkitab adalah tempat di mana urusan publik, hukum, dan perdagangan diputuskan. Jadi, “di pintu-pintu gerbang kota” berarti pujian itu tidak hanya diucapkan di lingkaran keluarga, tetapi juga diakui secara publik. Karakter yang dibangun diatas dasar takut akan Tuhan akan menghasilkan buah kebaikan yang nyata.
Maka, apa pelajaran? Pertama, nilai yang sejati terletak pada karakter, bukan penampilan. Mari kita berhenti mengejar validasi dari kecantikan yang fana dan mulai fokus membangun hati yang takut akan Tuhan. Kedua, biarlah perbuatan kita berbicara. Jangan menunggu pujian dari orang lain, tetapi biarlah hidup kita menjadi kesaksian yang hidup. Bagaimana kita memperlakukan keluarga, teman, dan orang asing? Apakah kita jujur dan dapat dipercaya? Apakah kita melayani dengan sukacita? Ketiga, perhatikanlah siapa yang kita puji. Apakah kita memuji seseorang hanya karena penampilan, kekayaan, atau statusnya? Mari kita belajar memuji mereka yang menunjukkan buah-buah Roh Kudus dalam hidup mereka, yang hatinya tulus melayani Tuhan. Amin (SIS)

