MENANTI KEDATANGAN RAJA YANG BIJAKSANA DAN ADIL | YEREMIA 23:1-8 | Pdt. Belly F. Pangemanan M.Th
Sobat obor, ada sebuah quote yang mengatakan begini: “Jadilah orang yang kedatangannya dirindukan dan kepergiannya ditangisi” Yah…jadilah sosok pemimpin yang dirindukan kehadirannya. Ketika tidak ada dicari-cari dan ketika dia pergi ditangisi karena banyak kenangan indah dan kebaikan yang diberikan sewaktu dia ada bersama kita. Jangan sebaliknya, jadi pemimpin yang dibenci keberadaannya.
Nah, bagaimana sosok pemimpin yang dirindukan itu? Rindu akan pemimpin yang bijak dan adil adalah suara hati yang tulus, dan murni. Kerinduan masyarakat terhadap pemimpin yang adil sama dengan kerinduan mereka terhadap tanah lapang yang hijau dan sejuk. Tempat mata meraih keindahannya. Tempat nafas menarik dalam kesejukannya. Tempat hati melepas kepenatannya, atau bahkan lebih dari semua itu. Apalagi hari ini, ketika pencarian masyarakat terbentur tembok keputusasaan, dicerminkan pada sikap apatis terhadap semua bentuk pemilihan pemimpin. Karena mereka telah kecewa, yang mana harapan yang muncul seperti tunas yang baru tumbuh, dihantam badai dusta tak tersisa. Kemunculan pemimpin yang adil ini harus diusahakan terus, walau adanya hanya ditumpukan jerami sekecil jarum. Kita tahu, semua orang bisa menjadi pemimpin. Namun, tidak semua orang mampu menjadi pemimpin yang adil. Sebab, pemimpin yang adil merupakan pemimpin yang didambakan oleh rakyatnya. Pemimpin yang adillah yang nantinya akan membawa kebaikan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Kita semua adalah pemimpin, setidak-tidaknya pemimpin diri kita sendiri. Oleh karena itu, setiap dari kita nantinya akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.
Dalam hal kepemimpinan ini, pertanyaan berikunya yang sering muncul adalah sosok pemimpin seperti apa yang ideal dan didambakan? Selalu ada kerinduan yang paripurna, bahwa kriteria pemimpin yang ideal setidaknya harus memiliki sifat yang jujur, lurus, tidak pembohong, amanah
(bertanggung jawab dan terpercaya), aspiratif dan dekat dengan rakyat, cerdas, pintar dan visioner. Inilah sifat-sifat ideal yang harus ada dalam diri seorang pemimpin, di mana pun levelnya, apa pun jenis institusinya. Apabila sifat utama ini telah melekat dan mengejawentah dalam diri seorang pemimpin, niscaya ia akan menjadi seorang pemimpin pembangkit spirit, yaitu pemimpin yang mampu menggerakan, memotivasi, menginspirasi, mengayomi dan membimbing para anggota atau rakyatnya untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita bersama. Ibaratkan mobil jika sopirnya handal, mobilnya bagus, niscaya jalannya enak, nyaman. Tapi walau mobil bagus dengan sopir belum pandai atau gak mengerti arah dan tujuan tentu tak bisa diandalkan. Pemimpin yang mampu melayani, bukan malah minta dilayani, pemimpin yang menyayangi bukan yang haus dihargai.
Di dalam Alkitab juga diceritakan ada krisis kepimpinan dalam umat. Memperhatikan bacaan kita saat ini, setidaknya ada dua hal yang tersirat di dalamnya, yang pertama bicara soal kecaman kepada pemimpin yang tidak bertanggungjawab. Firman Tuhan dalam teks ini, menegur para gembala Israel dengan sangat tajam. Hal tersebut ditandai dengan kata “celakalah!” Kata tersebut menunjukkan bahwa Tuhan sangat terluka dan tidak menyukai para gembala karena mereka tidak menggembalakan umat dengan benar! Lebih tepat, para gembala ini tidak mementingkan kesejahteraan domba- domba, tetapi malahan mementingkan diri mereka sendiri. para gembala tersebut dikecam karena mereka tidak menggembalakan domba-domba tersebut. Apa artinya tidak menggembalakan domba-domba? Firman Tuhan mendeskripsikan tindakan itu melalui beberapa hal: membiarkan sampai ilang dan terserak, membiarkan sampai terserak dan tercerai- berai, serta tidak memberikan penjagaan. Kondisi ini membuat Tuhan kecewa dan marah. Pada bagian kedua, teks ini juga bicara soal pemulihan. Ini nampak dengan apa yang akan Tuhan lakukan untuk menjawab krisis kepemimpinan dalam umat dengan mengadirkan sorang raja yang bijaksana dan akan melakukan kebenaran dan keadilan.
Sobat obor, tak ada pemimpin yang sempurna dan sejarah telah menjadi laboratorium yang tidak sempurna. Angin dan badai selalu mengarungi perjalanan pemimpin. Jangan berenti berdoa untuk menantikan keadiran sosok yang diutus Tuhan. Mari kita juga menjadi sosok pemimpin yang dirindukan bukan semata-mata karena jabatan, melainkan lebih pada apa yang telah kita lakukan. Amin (BFP)

