TAK PERNAH TERLAMBAT | MATIUS 20:5-6

Sobat Obor, dalam perumpamaan tentang pekerja di kebun anggur, Yesus menggambarkan sesuatu yang sangat menakjubkan tentang Allah. Tuan kebun itu tidak hanya pergi pagi hari, tetapi terus keluar berulang kali yaitu jam sembilan, jam dua belas, jam tiga, bahkan jam lima sore ketika hari hampir berakhir. Tentu tindakan ini menunjukkan kasih Allah yang tidak mengenal batas waktu. Allah tidak pernah berhenti memanggil manusia, bahkan sampai pada “jam terakhir” hidup kita. Bayangkan betapa terkejutnya orang-orang yang berdiri di pasar saat sore itu. Mereka telah menunggu seharian, mungkin dengan perasaan malu dan putus asa. Tak ada yang mau mempekerjakan mereka. Bisa jadi mereka dianggap tidak berguna, tidak dibutuhkan, atau terlambat. Tetapi justru ketika mereka hampir kehilangan harapan, sang tuan datang dan berkata, “Mengapa kamu berdiri di sini sepanjang hari tanpa melakukan apa-apa?” Kalimat ini bukan teguran, melainkan undangan yang lembut. Seolah-olah tuan kebun berkata, “Aku masih membutuhkanmu. Waktumu belum habis.”

Sobat obor, sesungguhnya tindakan ini merupakan simbol belas kasihan Allah yang tak pernah menyerah. Bahkan ketika kita merasa hari sudah terlalu senja, hidup sudah terlalu jauh, dan kesempatan sudah habis, Tuhan tetap datang mencari kita. Ia datang untuk memberi arti baru, sekalipun waktu tinggal sedikit.

Bagi kita, kaum muda, ayat ini mengingatkan bahwa kasih karunia tidak diukur dari seberapa cepat kita datang kepada Tuhan, melainkan seberapa tulus kita menanggapi panggilan-Nya. Ada yang dipanggil sejak awal hidupnya, ada pula yang baru mendengar suara itu di akhir perjalanan. Tapi di hadapan kasih Allah, tidak ada yang lebih dulu atau lebih lambat, semua berharga di mata-Nya. Karenanya, Jika hari ini engkau merasa terlambat, ingatlah: Tuhan masih berjalan ke arahmu. Ia masih berkata, “Pergilah juga engkau ke kebun anggur-Ku.” Ingatlah bahwa kasih karunia selalu datang tepat waktu, bahkan di jam-jam terakhir hari kita. Amin (MT)