ALLAH TIDAK PERNAH SALAH | MATIUS 20:11-14

Sobat Obor, dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa dengan sistem yang menilai berdasarkan usaha dan waktu. Siapa yang bekerja lebih keras, dialah yang layak mendapat lebih banyak. Pola pikir itu begitu manusiawi, namun Yesus dalam perumpamaan pekerja di kebun anggur justru membalik cara pandang itu. Dalam Matius 20:11–14, kita melihat reaksi manusia terhadap kemurahan Allah yang tidak sejalan dengan ukuran keadilan dunia. Mereka yang bekerja sejak pagi mulai bersungut-sungut, merasa dirugikan.

Ayat 11 mencatat, “Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu.” Padahal, mereka telah sepakat menerima satu dinar sejak awal. Namun begitu melihat orang lain, yang bekerja lebih sedikit namun mendapatkan bagian yang sama, rasa iri pun muncul. Dalam ayat 12, mereka berkata, “Mereka yang datang terakhir hanya satu jam lamanya, dan engkau menyamakan mereka

dengan kami yang sehari suntuk bekerja keras menanggung panas terik matahari.” Di sini tersirat bahwa kita ingin Tuhan menghitung jam pelayanan kita, menghargai pengorbanan kita, dan memberi lebih banyak dibandingkan orang lain. Tapi kasih karunia tidak bekerja seperti itu. Kasih karunia tidak pernah diukur dari lamanya pelayanan, tetapi dari kemurahan hati Allah yang berdaulat. Sang tuan menjawab dengan penuh kasih dalam ayat 13–14: “Saudaraku, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau… Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau

memberikan kepada orang yang datang terakhir ini sama seperti kepadamu.” Dengan kata “saudaraku,” tuan itu menegur tanpa kemarahan. Ia menegaskan bahwa Ia bebas memberi sesuai kehendak-Nya. Allah tidak pernah salah dalam membagikan berkat-Nya. Ia tidak pernah lalai membalas kesetiaan, tetapi Ia juga berhak mengasihi siapa saja menurut kasih-Nya yang sempurna.

Sobat obor, perumpamaan ini menyingkapkan bahwa sering kali masalah kita bukan pada keadilan Allah, melainkan pada hati yang iri. Kita mudah merasa dirugikan ketika kasih karunia Tuhan menyentuh orang lain. Namun kasih Allah tidak untuk diperdebatkan, melainkan disyukuri. Tugas kita bukan menghitung upah, tetapi bersukacita karena kita diundang bekerja di ladang-Nya. Dalam kerajaan Allah, kemurahan selalu melampaui perhitungan, dan kasih karunia selalu lebih besar dari logika manusia. Amin (MT)