TAK BISA DI UKUR | MATIUS 20:15-16

Sobat Obor, Yesus menutup perumpamaan tentang pekerja di kebun anggur dengan kata-kata yang kuat: “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Ataukah iri hatimu karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir.” (Matius 20:15–16). Kata-kata ini mengingatkan kita bahwa kasih Tuhan tidak bisa dihitung seperti upah kerja. Ia memberi bukan karena kita lebih hebat, lebih lama melayani, atau lebih rajin, tetapi karena Ia penuh kasih dan kemurahan.

Ketika sang tuan berkata, “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?” artinya Tuhan bebas menunjukkan kasih dan berkat-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Ia tidak terikat oleh cara pikir manusia yang selalu ingin segalanya adil secara perhitungan. Tuhan memberi karena Ia mau, bukan karena kita pantas. Kasih-Nya adalah hak milik- Nya sendiri yang Ia bagikan dengan sukacita kepada semua orang. Lalu Ia bertanya, “Ataukah iri hatimu karena aku murah hati?” Pertanyaan ini menyentuh hati kita. Kadang kita tidak bersyukur karena terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Kita iri melihat orang lain lebih diberkati, padahal Tuhan juga sudah memberi bagian kita sendiri. Yesus ingin kita belajar bersukacita ketika orang lain diberkati, karena kasih Tuhan tidak berkurang sedikit pun hanya karena Ia memberkati yang lain juga. Akhirnya Yesus berkata, “Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir.” Kalimat ini menunjukkan bahwa dalam kerajaan Allah, ukuran keberhasilan berbeda dari dunia. Tuhan tidak melihat siapa yang lebih dulu atau siapa yang lebih banyak, tetapi siapa yang datang dengan hati yang tulus. Yang dianggap “terakhir” oleh dunia bisa jadi yang paling berharga di mata Tuhan.

Sobat obor, renungan ini mengingatkan kita bahwa kasih karunia Tuhan tidak bisa dihitung dengan ukuran manusia. Ia memberi sesuai dengan kasih- Nya, bukan menurut jasa kita. Karena itu, jangan iri atau membandingkan diri, tetapi bersyukurlah karena kita diundang untuk ikut bekerja di ladang- Nya. Setiap orang mendapat tempat yang sama dalam kasih Tuhan. Amin (MT)