HIDUPLAH SEBAGAI ANAK-ANAK TERANG | EFESUS 5:1-21| Pdt. Stefanus Mawitjere, M.Th
Sobat Obor, salah satu pernyataan yang penuh makna soal terang di Alkitab yaitu perkataan Yesus : Akulah Terang Dunia (ἐγώ εἰμι τὸ φῶς τοῦ κόσμου). Yesus tidak sekadar membawa terang; Ia adalah terang itu sendiri, gambaran kehadiran Allah, gambaran terang yang menghapus kegelapan dosa, tapi juga frasa tersebut adalah klaim keilahian sehingga memotivasi kita senantiasa hidup dalam Kristus di sepanjang tahun yang baru 2026 ini.
Sobat obor, kota Efesus sendiri adalah pusat kebudayaan Yunani-Romawi dan rumah bagi kuil Artemis, salah satu keajaiban dunia kuno. Dalam konteks itu, jemaat Efesus hidup di tengah tekanan moralitas duniawi dan nilai-nilai kafir. Karena itu, pasal 5 menjadi seruan pastoral agar umat Allah hidup berbeda sebagai anak-anak terang yang meniru Allah di dalam Kristus. Paulus membuka perikop ini dengan panggilan: “Jadilah penurut- penurut Allah seperti anak-anak yang kekasih” (bahasa Yunani mimētai, yang berarti “peniru” atau “pengikut teladan). Ini bukan sekedar imitasi lahiriah, tetapi suatu transformasi batin melalui karya Roh Kudus supaya hidup meniru Allah, terutama hidup di dalam kasih, sebab kasih adalah sifat utama Allah yang dinyatakan sempurna dalam Kristus. Kasih Kristus yang rela berkorban menjadi dasar iman Kristen. Dalam teologi Reformed, hal ini disebut imitatio Dei—peniruan terhadap Allah yang tidak didasarkan pada usaha manusia, melainkan respons anugerah terhadap karya penebusan Kristus. John Calvin menyatakan bahwa peniruan terhadap Allah hanya mungkin terjadi bila manusia telah diperbaharui oleh Roh Kudus, sebab tanpa kelahiran baru, manusia hanya meniru dosa lamanya.
Selanjutnya Paulus memperingatkan jemaat agar menjauhi segala bentuk kenajisan, keserakahan, dan percabulan (ay. 3–7). Istilah porneia (percabulan) dan pleonexia (keserakahan) mencerminkan dua bentuk penyembahan berhala modern: kenikmatan dan materi. Dalam konteks Efesus, kedua hal ini terkait erat dengan ritual kafir di kuil Artemis. Paulus mengingatkan bahwa hidup semacam itu tidak layak bagi orang kudus, sebab umat Allah dipanggil untuk hidup dalam kekudusan dan ucapan syukur. Bagian tengah perikop (ay. 8–14) menjadi inti teologisnya:” Paulus tidak berkata bahwa mereka hidup di dalam kegelapan, melainkan bahwa mereka adalah kegelapan itu sendiri. Ini menunjukkan sifat eksistensial dosa: manusia tanpa Kristus tidak hanya tersesat, tetapi adalah bagian dari kegelapan itu. Namun dalam Kristus, identitas mereka diubah menjadi terang.
Dalam tradisi Reformed, ini menggambarkan doktrin union with Christ— persatuan dengan Kristus yang membawa manusia keluar dari kegelapan menuju terang kasih karunia. Hidup dalam terang berarti menghasilkan buah kebenaran, keadilan, dan kebenaran (ay. 9). Paulus kemudian menasihati jemaat agar tidak mengambil bagian dalam perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa (ay. 11). Perbuatan kegelapan bersifat destruktif, tersembunyi, dan mematikan, sedangkan terang menyingkapkan dan memperbarui. Seruan “Bangunlah, hai kamu yang tidur, dan bangkitlah dari antara orang mati, ini adalah panggilan bagi gereja untuk sadar dari tidur rohani dan memancarkan terang Injil di tengah dunia yang gelap.
Dalam bagian terakhir (ay. 15–21), Paulus menasihati agar jemaat hidup dengan bijaksana, memakai waktu dengan baik, dan penuh dengan Roh. Hidup bijaksana berarti menilai segala sesuatu dari perspektif kekekalan. Kata kairos yang dipakai untuk “waktu” menandakan momen yang bernilai, bukan sekadar durasi kronologis. Orang yang bijaksana mengisi hidupnya dengan penyembahan sejati, ucapan syukur, dan ketundukan dalam kasih, dan berpusat pada Kristus. Roh Kudus memampukan orang percaya untuk memuji Tuhan, bersyukur dalam segala hal, dan saling merendahkan diri di dalam kasih Kristus (ay. 18–21).
Sobat obor, renungan ini memberikan pesan firman : Yesus berkata, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Bagi para pemuda, ini berarti hidup di zaman yang penuh pilihan, godaan, dan kegelapan moral hanya bisa dijalani dengan satu arah terang — yaitu Kristus. Dunia menawarkan banyak “lampu neon” yang tampak indah: kesenangan sesaat, pencitraan di media sosial, dan ambisi pribadi. Namun semua itu cepat padam. Hanya terang Kristus yang memberi arah sejati dan tidak pernah padam. Pemuda Kristen dipanggil untuk memancarkan terang lewat pikiran, perkataan, perbuatan bahkan lewat media sosial. Karena itu, biarlah setiap langkahmu dipimpin oleh Yesus, Sang Terang Dunia, agar hidupmu bersinar di tengah zaman yang menawarkan nikmatnya kegelapan, tetaplah hiduplah dalam terang Kristus di sepanjang tahun baru 2026 ini. Amin (SM)

