TIDAK AKAN PERNAH USANG | 1 YOHANES 2:7-8

Sobat Obor, Setiap orang suka hal-hal baru. Kita senang dengan tren baru, lagu baru, dan pengalaman baru. Tapi dalam suratnya, Yohanes menulis sesuatu yang tampaknya aneh: “Aku tidak menulis perintah baru kepadamu, melainkan perintah lama.” Lalu pada ayat berikutnya ia berkata, “Namun perintah baru juga aku tuliskan kepadamu.” Mengapa Yohanes menyebut satu hal sebagai “lama” sekaligus “baru”? Yang Yohanes maksud adalah perintah untuk mengasihi. Itu memang bukan hal baru. Perintah ini sudah ada sejak umat Allah pertama kali diajar untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri (Imamat 19:18). Murid-murid Yesus sudah sering mendengar hal ini sejak awal mereka mengikut Dia. Namun kasih yang diajarkan oleh Yesus memberi makna yang benar-benar baru.

Kasih itu baru, karena kini kasih itu memiliki teladan yang hidup, yaitu Kristus sendiri. Ia tidak hanya mengajar tentang kasih, tetapi memperlihatkannya dalam pengampunan terhadap orang berdosa, dalam kesabaran terhadap murid-murid-Nya, bahkan dalam doa di kayu salib bagi mereka yang menyalibkan-Nya. Kasih seperti ini bukan lagi sekadar kewajiban moral, tetapi panggilan untuk meneladani Yesus. Ketika kasih Kristus hadir dalam diri seseorang, kegelapan mulai hilang. Yohanes menulis, “Kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya.” Artinya, setiap tindakan kasih adalah sinar kecil yang mengusir gelap di rumah, di gereja, di sekolah, di media sosial. Perintah mengasihi memang “lama”, tetapi setiap kali kita melakukannya, kasih itu menjadi “baru” kembali. Karena di dalam dunia yang semakin gelap, kasih selalu menjadi sesuatu yang segar, yang menghidupkan.

Sobat obor, jangan biarkan kasih itu menjadi sekadar kata. Hidupilah kasih dalam hati yang selalu mau dibaharui. Ingatlah bahwa ketika kita memilih untuk mengasihi, kita sedang menyalakan terang Kristus di tengah dunia yang haus akan kasih sejati. Kasih tidak akan pernah usang, karena selalu baru bagi hati yang mau meneladani Kristus. Amin (MT)