HIDUP DALAM KASI | 1 YOHANES 2:9-11

Sobat Obor, Ada Sebuah Kisah Nyata Tentang Dua sahabat yang berselisih karena kesalahpahaman. Mereka berdiam diri berbulan-bulan, saling menghindar di gereja. Hingga suatu malam, listrik gereja padam saat ibadah pemuda di mulai. Dalam gelap, mereka berdua tanpa sengaja duduk bersebelahan. Saat lagu pujian dinyanyikan hanya dengan suara gitar, salah satu dari mereka menangis dan memegang tangan temannya. Ia berkata, “Aku lelah hidup dalam gelap. Aku rindu berdamai.” Malam itu, tanpa lampu, justru terang kasih Allah hadir di antara mereka.

Hidup di dalam terang artinya hidup dalam kasih. Namun sering kali kita merasa mudah berkata “aku mengasihi Tuhan”, tetapi sulit mengasihi orang yang melukai kita. Kita bisa menyanyi dengan semangat di ibadah, tapi enggan menyapa teman yang pernah membuat kita kecewa. Yohanes ingin kita sadar: kasih bukan hanya urusan antara kita dan Tuhan, tetapi juga antara kita dan sesama. William Barclay pernah menulis bahwa kebencian adalah “malam yang menelan jiwa.” Ia membuat kita buta terhadap kebaikan, tuli terhadap suara Tuhan, dan lumpuh dalam berbuat kasih. Yohanes menulis, “Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.” Artinya, ketika kita memilih untuk mengasihi, langkah kita jadi jelas, hati kita damai, dan kita tidak mudah tersandung oleh kejahatan. Kasih menjadi cahaya yang menuntun arah hidup kita. Sebaliknya, Orang yang hidup dalam benci akan selalu curiga, mudah tersinggung, dan merasa tidak tenang. Ia seperti orang berjalan dalam malam tanpa bintang.

Sobat obor, kasih membuat kita bisa melihat dengan jernih. Ia menuntun kita untuk memaafkan, mengerti, dan memberi ruang bagi pertumbuhan orang lain. Dalam kasih, kita belajar bahwa setiap orang adalah karya Tuhan yang sedang dibentuk, bukan musuh yang harus dijauhi. Kasih tidak butuh panggung besar untuk bersinar. Ia bisa muncul dalam hal-hal kecil: menolong teman yang terpuruk, tidak membalas ejekan, mendengarkan dengan sabar, atau sekadar menyapa dengan tulus. Di situlah terang Kristus bersinar melalui hati yang mau mengasihi tanpa pamrih. Amin (MT)