SANG IDOLA | 1 KORINTUS 1:14-16
Sobat Obor, di tengah budaya Indonesia yang sangat bersifat mengidolakan tokoh ataupun pemimpin agama, kita harus menjadi pemimpin yang berbeda. Sering kali, banyak orang menjadi hamba Tuhan yang diawali dengan segala ketulusan, namun akhirnya berubah juga karena perlakuan jemaat yang terlalu mengidolakan sang hamba Tuhan tersebut, sehingga terjadi pergeseran motivasi. Paulus adalah pemimpin berbeda, ia benar-benar merupakan seorang pemimpin yang berhati hamba.
Dalam bacaan hari ini, kita akan mulai melihat bagaimana tempat kediaman Allah, gereja-Nya tidak sesempurna yang kita harapkan. Ada kebocoran, retakan, dan lubang menganga dalam kehidupan gereja yang perlu diperbaiki. Dalam bacaan ini mereka memperdebatkan kelompok pemimpin spiritual mana yang mereka ikuti. Sebagian mengatakan mereka termasuk kelompok Paulus. Sebagian lainnya mengatakan mereka termasuk kelompok Apollo. Sebagian lainnya mengatakan mereka termasuk kelompok Petrus. Sebagian lainnya lagi mengatakan mereka termasuk kelompok Yesus. Coba kita membayangkan mengapa hal ini bisa menjadi masalah besar di gereja. Mungkin semuanya dimulai dengan mereka mengidolakan dan menjadikan para pemimpin spiritual ini sebagai pahlawan. Tahap selanjutnya mungkin adalah ketika mereka mencoba melihat diri mereka lebih unggul dibandingkan orang lain sebagai akibat dari kelompok tempat mereka berada. Tahap selanjutnya setelah itu mungkin adalah memandang rendah orang lain dan juga menghina kelompok “saingan” mereka. Jadi, alih-alih menghabiskan waktu mereka untuk bertumbuh dalam Tuhan dan menjalankan misi untuk Tuhan, mereka malah sibuk dengan persaingan dan perselisihan internal di dalam gereja.
Paulus mengajarkan bagaimana ia menempatkan diri dalam jemaat. Ketika persoalan dalam gereja terkait baptisan menjadi hal yang memisakan, padahal baptisan itu adalah mempersatukan umat dengan Tuhan Sang Kepala Gereja. Dijemaat mulai muncul sikap yang “mengidolakan” pelayan Tuhan. Disini Paulus mencoba memberi tahu mereka, “Aku bukan pahlawanmu. Aku bukan Juruselamatmu. Aku bahkan tidak mampu memikul beban untuk menjadi pahlawan dan Juruselamatmu. Yesuslah pahlawan dan Juruselamatmu. Yang mati untuk memenebus dosamu adalah Kristus dan bukan Paulus atau seorang hamba Tuhan”. Amin (BFP)
kita masing-masing mari kita tanamkan: menghindari pertengkaran harus dilakukan secepatnya sebelum menjadi bola api yang menghanguskan banyak orang, termasuk kita sendiri. Hiduplah dalam kasih dan damai dengan sesama, semesta, dan semua ciptaan Tuhan. Dengan demikian, kesatuan akan terwujud jika kita memandang Yesus sebagai satu-satunya pemersatu kita. Yesus harus menjadi pusat lebih tinggi dari pendapat maupun tradisi kita. Kita harus meninggikan Dia di atas segala sesuatu. Amin (BFP)

