ONE PEOPLE ONE GOD | BILANGAN 1:44-46
Sobat Obor, Di dunia yang penuh perbedaan latar belakang, karakter, kemampuan, gelar akademik, dll kita sering berpikir bahwa kesatuan hanya mungkin jika semua orang menjadi sama. Namun Bilangan 1:44–46 menyampaikan kebenaran yang berbeda dan lebih dalam. Setelah semua suku Israel dihitung, firman Tuhan memberikan satu kesimpulan: satu jumlah, satu umat, di bawah satu Allah. Mereka bukan menjadi satu karena seragam atau setara dalam segala hal, melainkan karena dipanggil, dihitung, dan ditata oleh Allah yang esa. Inilah inti tema One People, One God. Kesatuan umat Allah tidak dibangun dari kesamaan manusiawi, tetapi dari panggilan ilahi. Di hadapan Allah, perbedaan suku tidak dihapus, tetapi disatukan dalam satu perjanjian.
Bilangan 1:44–46 menutup rangkaian sensus Israel di padang gurun Sinai dengan mencatat jumlah total orang yang terdaftar, yaitu 603.550 laki- laki yang siap berperang. Secara konteks, ayat-ayat ini berfungsi sebagai klimaks administratif sekaligus teologis dari perintah TUHAN kepada Musa. Israel kini tampil bukan sebagai kumpulan budak yang tercerai-berai, melainkan sebagai umat perjanjian yang tertata di bawah pemerintahan Allah. Penegasan bahwa sensus ini dilakukan “menurut kaum keluarganya” menekankan kesinambungan perjanjian dan kesetiaan Allah dari generasi ke generasi. Secara tafsiran, jumlah total ini bukan glorifikasi kekuatan militer, melainkan kesaksian bahwa Allah telah memelihara umat-Nya sejak janji kepada Abraham tentang keturunan yang banyak. Dalam kerangka teologi Reformed, perikop ini menyingkapkan providentia Dei dan covenantal faithfulness: Allah yang berdaulat menggenapi janji-Nya melalui cara yang teratur dan historis. Israel tidak besar karena keunggulan mereka, melainkan karena kesetiaan Allah pada firman-Nya
Sobat obor, renungan ini memberikan pesan firman yang penting di tengah dunia yang mudah memecah belah lewat perbedaan dan perbandingan, nilai kita tidak ditentukan oleh siapa yang paling menonjol, tetapi oleh fakta bahwa kita termasuk dan diperhitungkan oleh Allah. Kesatuan sejati lahir bukan dari kesamaan selera, prestasi, atau status, melainkan dari ketaatan bersama kepada Tuhan yang sama. Karena itu, pemuda Kristen dipanggil hidup bukan untuk saling bersaing, tetapi saling membangun sebagai satu umat di bawah satu Allah, hidup setia, rendah hati, dan mau dipakai demi kemuliaan-Nya. Amin (SM)

