BERTEKUN DALAM PENGAJARAN DAN DALAM PERSEKUTUAN | KISAH PARA RASUL 2:41-47 | Pdt. Denny L Waljufry, S.Th

Sobat Obor, Pernahkah kalian memperhatikan sebuah pohon besar yang tetap berdiri tegak meskipun dihantam badai yang sangat kencang? Rahasianya terletak pada akar-akarnya yang menghujam jauh ke dalam tanah dan saling menjalin dengan akar pohon lainnya di sekitarnya. Sebaliknya, pohon yang terlihat indah namun tidak memiliki akar yang kuat akan sangat mudah tumbang hanya dengan sekali tiupan angin. Dunia pemuda saat ini ibarat cuaca yang sering kali tidak menentu. Kita menghadapi badai tekanan pertemanan, arus gaya hidup yang menuntut kita untuk selalu terlihat sempurna, hingga rasa kesepian di tengah keramaian. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, “Jika ingin berjalan cepat, jalanlah sendirian. Tetapi jika ingin berjalan jauh, jalanlah bersama-sama.” Sebagai Pemuda GMIM, kita dipanggil bukan untuk menjadi orang Kristen yang hebat sendirian, melainkan untuk menjadi satu tubuh yang saling mengikatkan diri satu sama lain agar kita bisa berjalan jauh sampai ke garis akhir.

Jika kita melihat balik ke sejarah jemaat mula-mula, kita akan menemukan sebuah rahasia besar mengapa mereka bisa bertahan bahkan berkembang meski di tengah tekanan zaman. Setelah peristiwa Pentakosta, ada sekitar tiga ribu orang yang memberi diri dibaptis dan bergabung dalam persekutuan. Ini adalah simbol lahirnya sebuah keluarga baru. Alkitab mencatat bahwa mereka tidak hanya menjadi Kristen “KTP”, tetapi mereka bertekun. Mereka memiliki gaya hidup yang sangat disiplin dalam dua hal utama: pengajaran para rasul dan persekutuan yang erat. Mereka setiap hari berkumpul di Bait Allah dengan sehati dan memecahkan roti secara bergantian. Mereka tidak merasa bahwa apa yang mereka miliki adalah milik mereka sendiri. Mereka berbagi harta bagi yang kekurangan, memastikan tidak ada seorang pun yang merasa kelaparan atau diabaikan. Hubungan mereka berdasarkan kasih yang tulus dan jujur. Inilah yang membuat mereka memiliki daya tarik yang luar biasa di mata masyarakat waktu itu. Lalu, bagaimana kita menerapkan pola hidup jemaat mula-mula ini ke dalam kehidupan Pemuda GMIM? Pertama, Bertekun dalam Pengajaran. Kita hidup di era informasi yang sangat cepat. Lewat smartphone, kita bisa terpapar ribuan pemikiran. Jika kita tidak memiliki dasar yang kuat, kita akan mudah terbawa arus dunia yang sering kali menjauhkan kita dari Tuhan. Bertekun dalam pengajaran berarti kita mau menyediakan waktu untuk membaca Alkitab dan mendengarkan firman dengan sungguh-sungguh. Pengajaran adalah “akar” yang membuat kita tahu mana yang benar dan mana yang salah. Jangan jadikan ibadah pemuda hanya sebagai tempat untuk bertemu teman, tapi jadikanlah itu tempat di mana kita mengisi ulang “bahan bakar” rohani kita melalui kebenaran firman Tuhan yang murni.

Kedua, Bertekun dalam Persekutuan. Persekutuan atau koinonia itu lebih dari sekadar hadir di gereja, duduk, lalu pulang setelah bersalaman. Persekutuan yang sejati adalah saat kita mulai membuka hati untuk peduli kepada sesama teman pemuda. Ada yang mungkin sedang kesulitan ekonomi, ada yang sedang bergumul dengan masalah keluarga, atau ada yang merasa minder dengan dirinya sendiri. Persekutuan yang bertekun adalah saat kita hadir untuk menguatkan. Jangan ada lagi sekat atau kelompok-kelompok (geng) yang membuat teman lain terasing. Kita adalah satu keluarga dalam Kristus.

Mari kita ingat kembali bahwa nama Obor Pembangunan bukan hanya sekadar label organisasi. Obor itu bisa terus menyala dan menerangi kegelapan hanya jika ia memiliki minyak yang cukup dan penjagaan yang konsisten. Ketekunan kita dalam belajar Firman adalah “minyaknya”, dan kebersamaan kita dalam persekutuan adalah “penjaga apinya”. Biarlah semangat itu tetap konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita kompak, sehati dan hidup dalam kasih yang nyata, maka dunia akan melihat bahwa ada perbedaan besar pada pemuda-pemudi Kristen. Mari kita jadikan persekutuan kita sebagai tempat yang penuh sukacita, tempat di mana setiap orang merasa diterima, dan tempat di mana nama Tuhan dimuliakan melalui setiap tindakan nyata kita. Amin (DLW)