SOLIDARITAS YANG MENGUBAHKAN | KISAH PARA RASUL 2:44-45

Sobat Obor, Inti dari kehidupan kekristenan sebenarnya bukan terletak pada seberapa hebat kita berteori tentang kasih, melainkan sejauh mana kasih itu terwujud dalam tindakan nyata. Dalam catatan Kis. 2:44-45, kita menemukan sebuah standar hidup yang sangat radikal: jemaat mula-mula memilih untuk tidak mementingkan diri sendiri. Mereka tetap bersatu dan menganggap segala kepunyaan mereka adalah milik bersama. Bahkan, mereka rela menjual harta milik mereka untuk dibagikan kepada siapa saja yang membutuhkan. Ini bukan sekadar gerakan sosial biasa, melainkan bukti bahwa ketika seseorang benar-benar mengalami perjumpaan dengan Kristus, cara pandangnya terhadap harta dan sesama akan berubah total. Tindakan mereka ini merupakan buah dari pemahaman tentang anugerah. Mereka sadar bahwa di dalam Kristus, tidak ada lagi sekat antara yang kaya dan yang miskin, atau yang kuat dan yang lemah. Harta bukan lagi dianggap sebagai lambang status sosial untuk dipamerkan, melainkan sebagai alat untuk menyatakan kebaikan Tuhan. Mereka memahami bahwa segala sesuatu yang mereka miliki sebenarnya adalah titipan Tuhan yang harus digunakan untuk berbagi. Inilah “kasih yang memberi” yang menjadi ciri khas utama dari komunitas yang dipimpin oleh Roh Kudus.

Bagi kita Pemuda GMIM, tantangan hari ini adalah melawan budaya pamer (flexing) dan persaingan gengsi yang sering merusak pertemanan. Sering kali kita merasa lebih hebat jika punya barang yang lebih mewah. Namun, renungan hari ini mengajak kita untuk berani tampil beda. Solidaritas sebagai pemuda GMIM seharusnya melampaui sekadar kumpul-kumpul. Sudahkah kita peduli ketika ada teman yang sedang bergumul dengan biaya pendidikan atau masalah keluarga? Mari kita belajar untuk tidak menjadi pemuda yang egois. Kita dipanggil untuk menjadi komunitas yang saling menopang, di mana yang kuat membantu yang lemah, sehingga tidak ada satu pun orang di antara kita yang merasa sendirian dalam menanggung beban hidup. Amin (DLW)