IBADAH DAN KEBERSAMAAN | KISAH PARA RASUL 2:46
Sobat Obor, budaya Minahasa sangat dikenal dengan budaya kumpul-kumpul yang tak pernah lepas dari acara makan bersama. Entah itu acara syukur, pesta, atau sekadar pertemuan rutin, meja makan selalu penuh dengan hidangan dan tawa. Kita punya semangat kebersamaan yang luar biasa; rasanya ada yang kurang kalau tidak ada acara “makan besar” bersama keluarga dan sahabat. Namun, ada satu hal yang perlu kita renungkan: apakah keramaian di meja makan itu selalu diikuti dengan ketulusan hati? Sering kali, kita hanya sibuk dengan kemeriahan acaranya saja, tapi setelah pulang, kita kembali hidup masingmasing tanpa ada ikatan batin yang benar-benar kuat di dalam Tuhan. Dalam bacaan ini jemaat mula-mula juga menunjukkan budaya “makan bersama”, tapi dengan kualitas yang lebih dalam. Alkitab mencatat bahwa setiap hari mereka berkumpul di Bait Allah untuk ibadah formal, namun mereka juga memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergantian dengan gembira dan tulus hati. Ini menunjukkan bahwa ibadah Kristen tidak boleh terkurung di dalam gedung gereja saja. Ibadah yang sejati justru teruji saat kita berada di “meja makan”; kehidupan sehari-hari. Kesucian yang kita bangun saat berdoa di gereja harus terpancar dalam kejujuran dan ketulusan kita saat bercengkerama dengan sesama di rumah. Bagi kita Pemuda GMIM, hal ini menjadi teguran sekaligus motivasi. Jangan sampai kita hanya semangat ikut kegiatan pemuda karena ada acara makan-makannya atau sekadar ingin kumpul ramai-ramai. Mari kita bawa semangat “tulus hati” dari jemaat mula-mula ke dalam budaya kongkow- kongkow atau kumpul keluarga kita. Ibadah kita di hari Minggu atau saat ibadah pemuda seharusnya membuat kita menjadi pribadi yang lebih ramah, lebih jujur, dan lebih peduli saat berada di lingkungan rumah. Amin (DLW)

