PADA TUHAN ADA PENGAMPUNAN | MAZMUR 130:1-8 | Pdt Stephanie I. Sandala, S.Teol

Sobat Obor, Pernahkah kita berada di titik paling rendah dalam hidup? Pernahkah kita melakukan kesalahan dan membuat hidup kita harus menghadapi kesulitan yang besar dan menjadi pergumulan yang melelahkan ? Ketika kita berusaha untuk menyelesaikan persoalan itu dengan kekuatan Sendiri ternyata masalah bukannya selesai, tetapi sebaliknya justru semakin rumit dan semakin berat?

Mazmur 130 adalah mazmur ratapan. Pemazmur tidak berseru dari tempat yang nyaman, tetapi “dari jurang yang dalam” (ayat 1). “Jurang yang dalam” (Ibrani: ma‘amaqqîm) ini melambangkan keadaan paling rendah dan gelap dalam hidup manusia. Ini bukan sekadar penderitaan fisik, melainkan kondisi rohani yang tertekan oleh dosa. Pemazmur tidak menutup-nutupi keadaannya. Ia tidak berpura-pura kuat, tidak berpura-pura benar. Pemazmur tidak menyangkal keadaannya. Ia tidak menyembunyikan lukanya. Ia datang kepada Tuhan dengan kejujuran penuh dan sambil ia berseru kepada Tuhan.

Seruan ini menunjukkan iman: walau berada di jurang, pemazmur tetap mengarahkan seruannya kepada TUHAN. Pemazmur memohon agar Tuhan “mendengar” dan “memperhatikan”. Ini menekankan kedekatan relasional antara manusia dan Allah. Permohonan ini lahir dari keyakinan bahwa Tuhan adalah Allah yang mendengar doa umat-Nya. Pemazmur memohon agar Tuhan sungguh-sungguh memperhatikan doanya. Ia percaya Allah bukan pribadi yang jauh, tetapi Allah yang mau mendengar seruan orang yang datang dengan kerendahan hati. Pemazmur mengakui realitas dosa universal. Tidak ada seorang pun yang mampu berdiri di hadapan kekudusan Allah jika Ia menghitung kesalahan manusia. Ayat 3 ini menegaskan keterbatasan manusia di hadapan keadilan Allah. Kesadaran ini membawa pemazmur kepada sikap rendah hati, bukan pembenaran diri. Pengampunan Allah menjadi titik balik mazmur ini. Pengampunan bukan melemahkan kekudusan Tuhan, melainkan meneguhkan rasa

 

takut akan Tuhan yaitu hidup dalam hormat, ketaatan, dan kasih. Menanti Tuhan berarti bersandar sepenuhnya pada janji-Nya. Pemazmur tidak hanya berharap pada perasaan lega, tetapi pada firman Tuhan yang setia dan dapat diandalkan. Sehingga pengalaman pribadi pemazmur berubah menjadi seruan bagi seluruh umat. Kasih setia Tuhan menegaskan kesetiaan Allah pada perjanjian-Nya dan kesiapan-Nya untuk menolong umat-Nya berulang kali. Oleh sebab itu puncak pengharapan mazmur ini adalah pembebasan dari dosa. Tuhan bukan hanya mengampuni secara individual, tetapi memulihkan umat-Nya secara menyeluruh. Dalam iman Kristen, ayat terakhir ini digenapi melalui karya penebusan Kristus.

Sobat Obor, Seperti pemazmur, keputusasaan dalam hidup sering menghampiri kita sehingga kita merasa jauh dari Tuhan. Pada waktu seperti itu, seberapa berani kita menghampiri Allah di dalam doa? Apakah kita berdoa dengan kegentaran dan rasa kagum karena pengampunan yang Ia sediakan bagi kita umat pilihan-Nya? Adakah kesadaran akan kemurahan, pengampunan, dan penebusan yang telah Ia berikan kepada kita melalui Kristus Yesus? Bacaan kita kali ini mengingatkan setiap orang percaya termasuk kita pemuda-pemudi untuk mengakui dosa-dosanya serta bertobat dengan sungguh-sungguh. Keberanian kita untuk mengakui dosa dan memohon ampun atas dosa-dosa tersebut dihasilkan dari keyakinan iman akan Tuhan yang Maha Pengampun. Di minggu sengsara yang pertama ini, kiranya kita dapat memulainya dengan penuh kerendahan hati di hadapan Tuhan. Tidak menyembunyikan dosa dari-Nya, tetapi dengan jujur mengakui dan menyatakan pertobatan. Allah tidak pernah menolak kita ketika kita datang kepada-Nya. Dia tidak pernah mengingat-ingat kesalahan yang telah kita perbuat. Doa merupakan sarana komunikasi yang terus terbuka bagi umat-Nya di dalam Kristus Yesus. Firman-Nya berkata bahwa jika kita mengaku dosa kita, Ia setia dan adil, Ia akan mengampuni serta membebaskan kita dari segala dosa kita. Amin (SIS)