BERSERU DARI JURANG: AWAL PERTOBATAN DI MINGGU SENGSARA | MAZMUR 130:1
Sobat Obor, Minggu Sengsara membawa kita masuk ke dalam perjalanan penderitaan Yesus. Bukan perjalanan yang indah, tetapi perjalanan yang penuh luka, air mata, dan kesendirian. Pemazmur membuka Mazmur 130 dengan kalimat yang sangat jujur: “Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN.” Ini bukan doa orang yang sedang nyaman, tetapi doa orang yang sudah tidak punya pegangan selain Tuhan. Bagi pemuda, “jurang” itu nyata. Jurang kekecewaan karena gagal mencapai harapan, jurang luka batin karena dikhianati, jurang dosa yang berulang, atau jurang kelelahan hidup rohani.
Minggu Sengsara mengingatkan bahwa iman tidak selalu dimulai dari puncak, tetapi sering kali justru dari titik terendah.Yesus sendiri masuk ke jurang penderitaan manusia. Ia ditolak, disalahpahami, dihina, disiksa, dan akhirnya disalibkan. Dia bukan Tuhan yang hanya berdiri di atas dan melihat penderitaan kita, tetapi Tuhan yang turun dan mengalaminya. Ketika kita berseru dari jurang, kita berseru kepada Allah yang tahu persis rasanya menderita. Pemazmur berseru dengan keyakinan bahwa Tuhan mendengar. Ini adalah sikap iman yang penting bagi pemuda: tidak menyembunyikan luka, tetapi membawanya kepada Tuhan. Minggu Sengsara bukan waktu untuk berpura-pura kuat, melainkan waktu untuk jujur dan bertobat. Sering kali kita menunda datang kepada Tuhan karena merasa diri terlalu rusak. Padahal justru di saat seperti itulah Tuhan paling dekat. Salib mengajarkan bahwa Tuhan tidak alergi terhadap penderitaan dan dosa manusia. Seruan pemazmur adalah undangan bagi pemuda untuk berhenti berpura-pura kuat dan mulai jujur di hadapan Tuhan. Tuhan tidak menunggu kita sempurna untuk datang kepada-Nya. Ia menunggu hati yang mau berseru. Di Minggu Sengsara Pertama ini, kita diajak datang kepada Tuhan dengan segala luka dan kegagalan, percaya bahwa jeritan kita tidak sia-sia. Dari jurang kehidupan, Tuhan mendengar seruan anak- anak-Nya. Salib Kristus menjadi bukti bahwa Tuhan tidak membiarkan kita tenggelam, tetapi mengangkat kita dengan kasih dan pengharapan yang baru. Amin (SIS)

