DOSAKU, SALIB-MU | MAZMUR 130:3

Sobat Obor, “Jika Engkau mengingat kesalahan, siapakah yang dapat bertahan?” Pertanyaan ini menelanjangi kita semua. Minggu Sengsara menegaskan satu kebenaran: salib ada karena dosa manusia. Setiap luka Yesus adalah akibat dosa kita. Ada pemuda yang berkata, “Saya gak pantas datang ke Tuhan.” Tapi justru salib berkata sebaliknya: Yesus mati bukan untuk orang yang sudah beres, tetapi untuk orang berdosa yang mau bertobat. Salib menegur kita agar tidak meremehkan dosa, tetapi memberi harapan bahwa kasih Tuhan lebih besar dari dosa apapun. Ayat ini adalah pengakuan yang jujur &merendahkan hati. Pemazmur sadar,dihadapan Allah yang kudus, tidak ada satupun manusia yang benar jika Tuhan memperhitungkan setiap kesalahan. Ayat ini mengajak untuk berhenti membenarkan diri& berani mengakui bahwa kita membutuhkan kasih karunia Tuhan. Dalam kehidupan ini, ayat ini sangat dekat dengan realita hidup. Apa lagi diusia muda, kita sering berusaha tampil baik, aktif dalam pelayanan, rajin mengikuti kegiatan rohani/terlihat “aman” di mata orang lain. Namun dibalik itu, ada kegagalan, dosa, &keputusan keliru yang kita sesali. Kadang rasa bersalah membuat kita menjaga jarak dari Tuhan, karena merasa tidak layak datang kepada-Nya. Mazmur ini menolong kita memahami bahwa rasa tidak layak itu justru membuka jalan bagi pertobatan. Jika keselamatan bergantung pada kesempurnaan hidup kita, maka tidak ada satu pun yang dapat bertahan. Kesadaran ini menghancurkan kesombongan rohani dan menuntun kita kepada sikap rendah hati di hadapan Tuhan. Ayat ini juga menegaskan bahwa Tuhan bukanlah Allah yang mencari-cari kesalahan untuk menghukum, tetapi Allah yang menantikan pengakuan&pertobatan. Pemazmur mengakui dosanya bukan untuk tenggelam dalam rasa bersalah, melainkan untuk membuka diri bagi pengampunan Tuhan. Kesadaran akan dosa bukan akhir perjalanan iman, tetapi awal pemulihan. Tuhan tidak meminta kita tampil sempurna, tetapi datang dengan hati yang jujur. Dihadapan Tuhan, kita belajar kekuatan sejati bukan terletak pada kesalehan yang ditampilkan, melainkan kerendahan hati untuk mengaku bahwa kita membutuhkan Dia. Amin (SIS)