SEPERTI TANAH LIAT DI TANGAN TUKANG PERIUK, DEMIKIANLAH KAMU DI TANGAN-KU | YEREMIA 18:1-18 | Pdt. Andre R.M. Izaak, M.Th

Sobat Obor, tukang periuk adalah salah satu pekerjaan yang mungkin tidak banyak orang yang tahu. Mungkin kita sering mendengarnya tetapi belum tentu mengenalnya. Di tengah kemajuan zaman ini pekerjaan seorang tukang periuk hampir tidak terdengar dan terlihat lagi. Mungkin dia tergilas dengan kemajuan zaman yang lebih banyak menggunakan alat-alat modern untuk menghasilkan segala macam perabot-perabot rumah tangga. Akan tetapi itu bukan berarti pekerjaan ini sama sekali sudah tidak ada. Sebab masih ada yang menggelutinya bahkan mewariskan keahliannya ini turun temurun. Tukang periuk adalah orang yang merancang atau membuat suatu benda dengan menggunakan tangan dan kakinya serta kemudian membentuk hasil kerajinannya dari tanah liat. Dari tangannya maka dia membentuk sesuatu menurut kehendaknya, sesuai dengan apa yang dia harapkan untuk dihasilkan. Jika pekerjaan yang dihasilkannya tidak sesuai maka dia akan merusakkan atau membongkarnya dan mulai kembali membentuknya sehingga tercipta karya yang indah menurut keinginannya. Keuletan dan ketekunan dalam pekerjaan ini adalah kunci untk menghadirkan karya- karya indah yang dapat digunakan oleh banyak orang.

Sobat obor, bacaan kita di sepanjang minggu ini dari Yeremia 18:1-18 menceritakan tentang perintah yang disampaikan Tuhan bagi sang Nabi untuk umat-Nya Yehuda. Tuhan menggunakan pekerjaan tukang periuk sebagai alat untuk mengingatkan serta menyatakan penghukuman- Nya bagi Yehuda. Tuhan menghendaki mereka bertobat dan sadar akan segala dosa dan hidup dalam kehendak-Nya. Akan tetapi kita mengetahui bersama bahwa akhirnya Yehuda mengalami penyerbuan, penghancuran dan dibuang. Dalam bacaan minggu ini kita melihat bagaimana Tuhan memperingatkan Yehuda atas kesalahan-kesalahan mereka. Dari ayat 1 diceritakan bagaimana nabi Yeremia mendengarkan firman yang datang dan berkata untuk pergi ke rumah tukang periuk. Ayat 2-3 mengatakan, pergilah dengan segera (Ibr. qum yarad, bangunlah/bangkitlah dan turunlah) ke rumah tukang periuk (Ibr. yatsar, orang yang membentuk). Nabi Yeremia melakukan sesuai dengan perintah Tuhan dan sesampai di rumah tukang periuk itu maka dikatakan, kebetulan (Ibr. hineh, sesungguhnya) ia sedang bekerja (Ibr. `asah melakah, sedang membuat pekerjaan) dengan pelarikan (Ibr. ’oben, alat/roda untuk membuat bejana/ periuk). Setelah berada disana kemudian nabi Yeremia memperhatikan pekerjaan tukang periuk itu. Hal ini dikatakan di ayat 4 jika bejana yang dibuatnya rusak maka dia akan mengerjakannya (Ibr. yotser, membentuk) kembali menjadi bejana yang lain menurut apa yang baik (Ibr. yasar) pada pemandangannya. Maksud Tuhan agar nabi Yeremia ada disitu tentu saja memiliki tujuan sebagaimana yang dikatakan di ayat 5-10. Tuhan hendak menyakan maksud-Nya bahwa Dia seperti tukang periuk dan bangsa Yehuda adalah tanah liat yang dibentuk-Nya. Ayat 6 dengan tegas Tuhan mengatakan, “Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel! demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel! Sebagai tukang periuk Tuhan dapat menjadikan bangsa Yehuda sesuai dengan kehendak-Nya. Sehingga dengan tegas dan keras Tuhan menyatakan Dia sanggup mencabut, merobohkan (Ibr. natats, meremukkan) dan membinasakannya (Ibr. ’abad, melenyapkan) serta membangun (Ibr. banah, mendirikan) dan menanam (Ibr. nata`, membuat). Akan tetapi jika mereka bertobat maka Tuhan akan mendatangkan keberuntungan (Ibr. yasyab, kebaikan/kegembiraan). Oleh karena itu Tuhan mengingatkan umat-Nya melalui nabi Yeremia agar bertobat (Ibr. sub, berbalik) dan memperbaiki tingkah laku (Ibr. derek, jalan) dan perbuatan (Ibr. ma’alil, kelakuan) mereka (ayat 11). Akan tetapi peringatan ini tidak diindahkan Yehuda di ahyat 12 dikatakan, mereka lebih memilih mengikuti rencana (Ibr. makhasabah, rancangan) mereka sendiri dan kedegilan hati mereka yang jahat. Bahkan di ahyat 18 kita membaca bagaimana mereka bersepakat melawan Yeremia dan Tuhan akhirnya menghukum mereka.

Sobat obor, dalam penghayatan dan pemaknaan minggu sengsara kedua ini kita semua diingatkan sebagai orang muda untuk terus hidup dalam pertobatan. Jangan biarkan hidup kita mengikuti kedegilan hati kita masing-masing dan merancang kejahatan dalam hidup di masa muda. Ingatlah selalu bahwa Tuhan telah menganugerahkan keselamatan untuk kita dan oleh karenanya maka respon iman untuk terus hidup benar dalam kehendak-Nya harus terus kita lakukan. Amin (ARMI)