TUHAN MEMBENTUK KITA | YEREMIA 18:4-6
Sobat Obor, kintsugi (yang berarti menyatu dengan emas) adalah seni memperbaiki tembikar yang pecah di Jepang. Jika sebuah mangkuk atau perabot rumah tangga pecah, alih-alih membuang pecahannya, pecahan-pecahan tersebut disatukan kembali dengan lem seperti getah pohon (urushi) dan retakan-retakannya dihiasi dengan emas, perak atau logam mulia lainnya. Tidak ada upaya untuk menyembunyikan kerusakan, sebaliknya, kerusakan itu justru ditonjolkan. Praktik ini telah mewakili gagasan bahwa keindahan dapat ditemukan dalam ketidaksempurnaan. Kerusakan adalah sebuah kesempatan untuk diperbaiki dan dijadikan indah dengan unsur logam mulia yang menghiasi setiap pecahan atau retakan. Berakar dari praktik yang dipopulerkan oleh Shogun Ashikaga Yoshimasa yang lahir dari kekecewaan terhadap metode reparasi logam yang dianggap merusak keindahan keramik. Teknik ini menjadi simbol bahwa bekas luka dan ketidaksempurnaan bisa menjadi nilai estetika yang indah bahkan memiliki harga dan nilai tersendiri.
Sobat obor, di hari ini Tuhan mengingatkan bahwa dia adalah sang penjunan (tukang periuk) yang membentuk bejana tanah liat yaitu Yehuda dengan tangan-Nya sendiri. “Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel! demikianlah firman TUHAN.
Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel! Pernyataan Tuhan bagi Yehuda ini hendak menegaskan otoritas-Nya terhadap umat-Nya. Tidak ada yang tidak mungkin di dalam kuasa-Nya semuanya dapat dilakukan Tuhan dengan kasih-Nya yang tak pernah berkesudahan.
Sobat obor, hal ini akan terus memotivasi dan mengingatkan kita semua sebagai orang muda bahwa hidup kita ada dalam rencana tangan kasih- Nya. Dia akan membentuk kita seturut kehendak-Nya. Rancangan Tuhan adalah rancangan indah dalam setiap hidup kita masing-masing. Tuhan inginkan dari kita adalah tetap mengasihi-Nya dengan sepenuh hati untuk terus melakukan kehendak Tuhan. Dan jika kita jatuh dalam dosa dan kesalahan serta hidup menjadi rusak, itu bukan berarti kehilangan kesempatan untuk dibentuk dan diubahkan kembali oleh Tuhan. Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kita di tangan Tuhan. Amin (ARMI)

