IDENTITAS YANG TAK TERLUPAKAN | YESAYA 44 : 21
Sobat Obor, Dalam penelitian teologis Kitab Yesaya, khususnya pada bagian Deutero-Yesaya, ayat ini memegang peranan krusial sebagai penegasan identitas bagi bangsa Israel di tengah krisis eksistensial masa pembuangan. Secara eksegetis, Tuhan menyapa umat-Nya dengan dua nama: Yakub dan Israel. Pengulangan ini bukan sekadar gaya bahasa puitis Ibrani, melainkan sebuah upaya untuk mengingatkan kembali sejarah perjanjian yang telah terjalin lama sejak masa leluhur. Di tengah dominasi budaya Babel yang berusaha menghapus identitas keagamaan mereka melalui asimilasi paksa, Tuhan justru memanggil mereka kembali ke akar jati diri mereka yang paling mendasar: sebagai hamba-Nya. Istilah “hamba” dalam konteks ini tidak merujuk pada perbudakan yang merendahkan, melainkan sebuah gelar kehormatan dan pengakuan akan kepemilikan khusus. Tuhan menegaskan, “Aku telah membentuk engkau.” Penggunaan kata di sini menyiratkan tindakan seorang seniman atau penjunan yang membentuk tanah liat dengan tangan-Nya sendiri. Ini menekankan aspek kedaulatan ilahi dan rancangan teologis yang sangat personal; bahwa eksistensi umat bukanlah sebuah kebetulan sejarah atau hasil evolusi sosial semata, melainkan tindakan kreatif Allah. Karena itu, pernyataan penutup ayat ini, “Engkau tidak akan Kulupakan,” menjadi antitesis kuat terhadap perasaan “ditinggalkan” yang sering dirasakan umat saat berada dalam penderitaan pembuangan yang panjang. Bagi kita pemuda di masa kini, tantangan terbesar sering kali muncul dari krisis identitas di tengah arus globalisasi. Kita sering mendefinisikan jati diri berdasarkan pencapaian akademik, status sosial, atau validasi di dunia digital. Namun, Yesaya mengingatkan bahwa identitas kita dimiliki oleh Allah. Dalam Minggu Sengsara ini, kita belajar bahwa meskipun manusia sering kali “amnesia” rohani dan melupakan Tuhan, Allah tidak mungkin melupakan milik-Nya sendiri. Kesadaran bahwa kita adalah “ciptaan yang diingat” oleh Tuhan seharusnya menjadi jangkar bagi mentalitas kita, sehingga nilai diri kita tidak lagi ditentukan oleh fluktuasi situasi dunia, melainkan oleh kekekalan kasih Tuhan. Amin (DLW)

