IA HARUS DIIHUKUM MATI | MATIUS 26:57–68 | Pdt. Kristian Kasenda, S.Th
Sobat Obor, pada tahun-tahun awal kariernya, Mahatma Gandhi pernah dikeluarkan dari kereta hanya karena warna kulitnya; sehingga ia merasakan penghinaan, ketidakadilan, dan kesepian yang dalam. Peristiwa itu membentuk keberaniannya memperjuangkan kebenaran di kemudian hari. Kisah ini menolong kita memasuki suasana Minggu Sengsara, ketika Yesus ditangkap, diadili, dan ditolak tanpa kesalahan. Dalam Matius 26:57–68, para pemimpin agama telah memutuskan sebelumnya bahwa Ia harus dihukum mati! Hari ini bertepatan dengan peringatan Hari Air Sedunia, tanggal dua puluh dua Maret, yang mengingatkan bahwa hidup manusia seperti air: sangat berharga, namun sering disia-siakan. Yesus berdiri sebagai Pribadi yang rela kehilangan segalanya, agar manusia yang kehausan akan pengampunan dan makna hidup memperoleh sumber keselamatan sejati dari Allah.
Sobat obor, Matius 26:57–68 menggambarkan pengadilan Yesus yang secara hukum dan moral penuh rekayasa, namun secara teologis justru memperlihatkan penggenapan rencana kekal Allah bagi keselamatan umat-Nya, di mana Yesus diikat dan dibawa kepada Kayafas bukan karena Ia bersalah, melainkan supaya umat pilihan dibebaskan dari hukuman dosa, sementara Sanhedrin yang religius tetapi buta rohani mencari kesaksian palsu, mencerminkan kebenaran doktrin Reformed tentang total depravity, bahwa bahkan manusia yang paling religius pun dapat menjadi alat kejahatan ketika hati tidak diperbarui oleh anugerah, namun di tengah kebohongan dan kebengisan itu Kristus dengan berani menyatakan keilahian dan kemesiasan-Nya melalui pengakuan bahwa Ia adalah Anak Allah dan Anak Manusia yang kelak duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa, mengutip Daniel 7 dan Mazmur 110 sebagai deklarasi bahwa Ia adalah Raja dan Hakim kekal, sehingga ketika mereka menjatuhkan vonis mati dan menghinakan-Nya, sesungguhnya mereka sedang mengadili Hakim mereka sendiri, sementara Kristus secara sukarela menerima aib, pukulan, dan ludah untuk menggenapi nubuat Yesaya 53 dan melaksanakan karya
penebusan sebagai Pengganti umat-Nya, sebab dalam kejahatan manusia yang paling gelap sekalipun Allah tetap berdaulat menggenapi rencana- Nya yang kudus, sehingga pengadilan yang tampak sebagai kekalahan justru menjadi pintu keselamatan, tempat Kristus dihukum supaya kita dibenarkan, Ia dipermalukan supaya kita dimuliakan, dan Ia dibungkam supaya kita memperoleh hidup yang kekal di hadapan Allah.
Sobat obor, realita hidup pemuda masa kini tidak jauh berbeda. Kita hidup di zaman penghakiman sosial media; komentar publik dan standar populer menjadi mahkamah modern. Banyak pemuda dihakimi oleh angka, penampilan, prestasi, dan pencitraan. Mereka berjuang keras agar diterima, tetapi semakin lelah dan kosong. Krisis makna membuat banyak hati kehausan, seperti dunia yang menghadapi krisis air bersih. Kecemasan masa depan, tekanan keluarga, tuntutan karier, dan ketakutan gagal membuat jiwa rapuh. Kisah Yesus menegaskan bahwa identitas sejati tidak berasal dari penilaian manusia, melainkan dari kasih Allah yang sudah mengasihi kita ketika dunia menolak kita.
Sobat obor, implementasi firman bagi kita hari ini adalah hidup teguh dalam kebenaran, berpegang pada anugerah, dan menjadi aliran kehidupan bagi sesama, seperti air yang memberi hidup. Iman kepada Kristus harus mengalir dalam sikap, perkataan, dan keputusan. Jangan takut ketika dunia menghakimi, sebab Kristus telah menanggung penghakiman tertinggi bagi kita! Hiduplah bukan untuk membuktikan diri, tetapi untuk merespons kasih karunia dengan ketaatan. Gunakan masa muda untuk melayani, mengasihi, menjaga ciptaan, menghargai air dan kehidupan, serta menyatakan pengharapan di tengah dunia yang haus kasih dan kebenaran.
Hari ini kita belajar berjalan bersama komunitas; membangun kebiasaan doa; membaca firman; setia beribadah; menghormati orang tua; menjaga pertemanan sehat; menjauhi kekerasan, pornografi, narkoba, dan kebohongan. Kita memilih kejujuran, kerendahan hati, kerja keras, kesabaran, pengampunan, dan kesetiaan dalam relasi. Kita peduli pada lingkungan: menanam pohon, menghemat air, mengurangi sampah plastik, menjaga sungai, laut, dan udara; karena iman Kristen memanggil kita mengasihi ciptaan Tuhan sepenuh hati.
Mari kita setia melayani, belajar, bekerja, berkreasi, berinovasi, berdoa, berharap, dan bersaksi di mana pun berada sepanjang hidup sampai kedatangan Tuhan yang mulia kelak. Semoga kita semua tetap rendah hati, berani, setia, bersukacita, bersyukur, dan berjalan dalam terang kasih Tuhan. Soli Deo Gloria. Amin (KK)

