YESUS DISERAHKAN UNTUK DISALIBKAN | MARKUS 15:1-15 | Pdt. Frany Prokla Kuron, S.Th

Sobat Obor, Setelah penangkapan di taman Getsemani, Yesus dibawa di hadapan mahkamah Agama dan diadili. Banyak kesaksian palsu yang disampaikan kepada Yesus dan kesaksian itu tidak bersesuaian satu dengan yang lain. Artinya ada persekongkolan jahat untuk membunuh Yesus. Dengan suara bulat mahkamah Agama memutuskan, bahwa Yesus bersalah dan harus dihukum mati. Bagaimana supaya Yesus dihukum mati? Adili dengan pengadilan Roma; bawa kepada Pilatus.

Pengadilan Yesus berproses dengan cepat. Bisa saja disengaja! Malam hari ditangkap di taman getsemani, langsung dibawa dihadapan mahkamah Agama dan pagi pagi benar dihadapan Pilatus. Pagi pagi benar! Tidak bisa menunggu, Harus segera dilaksanakan. Ini momentum yang belum tentu dapat datang kembali; murid-Nya berkhianat, pengikut-Nya kocar-kacir dan ada perayaan hari raya besar. Tapi Bagi Yesus, yang menjadi pesakitan, inilah waktunya jalan via dolorosa dilalui.

Pengadilan Yesus dilaksanakan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Bahkan dihari Yesus diadili dihadapan Pilatus, dihari itu juga Yesus dijatuhi hukuman mati dan langsung dieksekusi. Sangat cepat, tidak adil dan dipenuhi dengan persekongkolan jalan. Pilatus pun tahu bahwa mereka melakukan itu semua kepada Yesus karena dengki (Mrk 15:10).

Sobat obor, pengadilan Yesus berjalan sangat cepat dan dipenuhi dengan ketidakadilan. Banyak tuduhan palsu yang disampaikan kepada Yesus. Seakan semuanya sudah dirancang agar Yesus dihukum mati. Tuduhan- tuduhan palsu ditujukan kepada Yesus dan semua itu tidak bersesuaian. Di depan mahkamah agama Yesus dituduh menghujat Allah (Mrk 14:64), didepan pilatus dituduh sebagai pemberontak. Bagi Yesus waktunya sudah tiba, lihat, anak manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa (Mrk 14:41-42). Pilatus berusaha untuk menjadi hakim yang adil tapi pada akhirnya dia menyerah pada keadaan. Tekanannya sangat besar, keputusan yang salah sangat berisiko. Bahkan ia lebih memilih membebaskan Barabas yang jelas adalah pemberontak ketimbang Yesus yang belum terbukti kesalahannya. Salibkanlah Dia! Itulah teriakan yang terdengar dari orang banyak yang menyaksikan pengadilan Yesus dan Pilatus mengikuti desakan orang banyak itu. Yesus pun diserahkan untuk disalibkan.

Sobat obor, kita terkadang tidak bisa mengambil tindakan benar saat ada dalam keadaan yang tidak aman, tertekan dan berbahaya bagi diri maupun apa yang kita miliki. Terkadang kita harus berada diposisi ”kesalahan” walaupun kita menyadari bahwa hal itu salah dan menampik ”kebenaran”.

Sobat obor, Bacaan ini memperlihatkan kelemahan kita sebagai manusia. Tidak mampu berlaku adil dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Lebih memilih mengikuti tekanan banyak orang dari pada berkorban demi kebenaran. Bahkan ketika pun kita ada dalam keamanan dan kenyamanan tetap saja keadilan itu sulit terwujud. Saat berkuasa dan berkelimpahan bisa saja kita tetap sulit berlaku benar. Sobat obor Yesus yang kita imani sebagai juruslamat ternyata tidaklah demikian. Ia rela melalui jalan menderita dan mati di kayu salib, supaya kita yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup kekal. Kita lebih memilih mengorbankan orang lain supaya kita aman tapi Yesus memperlihatkan sisi yang berbeda. Berkorban supaya yang pantas dihukum tidak dihukum, bahkan bebas dari hukuman. Yesus yang menderita dan mati di kayu salib merupakan demonstrasi kasih Allah bagi manusia berdosa.

Berikut, Milikilah hati yang tulus. Ikut senang ketika melihat orang lain berhasil dan ikut bergumul ketika orang lain gagal. Bukan sebaliknya! Pilatus mengambil keputusan berbeda dengan hati nuraninya. Dia tahu Yesus tidak bersalah dan tuduhan kepada-Nya mengada-ngada tapi Pilatus menyangkali hati nuraninya. Ia lebih memilih mengamankan posisinya. Ia lebih memilih untuk cuci tangan dan membiarkan Yesus dihukum mati. Bahkan ia membebaskan Barabas untuk memuaskan hati banyak orang dan disisi lain Yesus disesah dan diserahkan untuk disalibkan. Keputusan Pilatus berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya dan itu membuat jiwa tidak akan tenang. Sobat obor semoga Tuhan Allah memampukan kita untuk selaras antara hati, jiwa dan tubuh. Hati tulus dan gembira, jiwa yang memuliakan Tuhan serta tubuh yang mewujudkan kesaksian tentang kebaikan Tuhan. Selaras hati, jiwa dan Tubuh membawa pada ketenangan jiwa dan itu bisa teralami karena Tuhan, juruslamatku. Yesus, juruselamatku. Selaras hati, jiwa dan tubuh, Tidak muda! Tapi bukan berarti tidak bisa! Amin (FPK)