BERGEMBIRA DALAM PENDERITAAN | 1PETRUS1:6-7

Sobat Obor, putus asa adalah racun halus yang menggerogoti kekuatan batin manusia secara perlahan. Ia bukan sekadar perasaan sedih sesaat, melainkan kondisi jiwa yang kehilangan arah, harapan, dan daya juang. Manusia yang dirundung putus asa tidak hanya lumpuh secara emosional, tetapi juga kehilangan kemampuan untuk menatap masa depan dengan optimisme. Ia menjadi tawanan ketakutan dan kecemasan yang membelenggu, tak lagi mampu membaca kemungkinan baik dalam hidupnya

Surat Petrus yang pertama ini ditujukan kepada jemaat Tuhan yang dianiaya. Ketika Petrus membicarakan tentang penderitaan dan penganiayaan jemaat Tuhan, Petrus selalu menghubungkan dengan kemuliaan Tuhan. Penderitaan dan kemuliaan itu bagai dua sisi dari satu mata uang logam yang berdampingan, tidak bisa dilepaskan dan berkaitan erat. Tetapi penderitaan itu tidak otomatis membawa atau bermuara kepada kemuliaan. Ada jemaat-jemaat pada waktu di dalam penderitaan, mereka melakukan kejahatan, berkompromi dengan dosa, tidak konsisten taat firman Tuhan, mereka mendukakan Tuhan. Situasi yang sulit adalah kesempatan emas untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Bukankah terang itu betul-betul menjadi terang di dalam kegelapan? Bukankah harapan kita kepada Tuhan adalah betul-betul pengharapan di tengah-tengah dunia yang tidak berpengharapan?

Terhadap jemaat yang teraniaya ini, Petrus meminta mereka untuk bergembira dalam penderitaan. Ini bukan nasihat yang mudah. Umumnya orang bergembira dalam kebahagiaan. Tetapi untuk bergembira saat berada dalam penganiayaan, terlihat seperti nasihat yang mustahil. Petrus berani memberi nasihat seperti ini sebab ia sendiri pernah mengalami aniaya. Tetapi pengalamannya membuktikan bahwa ia bisa bersukacita di dalamnya. Bukan karena kekuatannya sendiri, tetapi karena Allah memberinya kuasa

Sobat obor, Semua penderitaan yang kita alami hendaknya dilihat sebagai momentum untuk menunjukkan bahwa hidup kita telah dijamin oleh karunia keselamatan yang telah diberikan Allah melalui Yesus Kristus. Kita orang-orang yang bertekun hendaklah mampu menghadapi penderitaan dan menaklukkannya dibawah kekuatan iman Tetapi hadapilah semuanya sebagai kesempatan untuk membuktikan kemurnian iman di hadapan Tuhan. Amin (BFP)