IMAN KAMU JANGAN BERGANTUNG PADA HIKMAT MANUSIA, TETAPI PADA KEKUATAN ALLAH | 1KORINTUS1:18-2:5 | Pdt. Frany Prokla Kuron, S.Th
Sobat Obor, sebelum perikop yang kita renungkan saat ini, Paulus berbicara tentang perpecahan dalam jemaat (1 Kor 1:10- 17). Paulus mendengar dari orang-orang keluarga Kloe tentang perselisihan yang terjadi di antara jemaat. Perselisihan itu bisa membawa pada perpecahan jadi Paulus menyelesaikan perselisihan itu lebih awal. Lebih baik mengantisipasi daripada memperbaiki yang hancur. Sobat obor semoga kita pun demikian, lebih baik mengantisipasi “kebakaran” daripada berusaha memadamkan yang sudah “kebakaran”.
Penyebab perselisihan ialah perbedaan. Lebih spesifik lagi perbedaan golongan. Mereka melihat orang, dan itu bukan utama. Bukan tentang benar atau salah. Perselisihan mereka antara “benar” dan “benar”. Aku dari golongan Paulus, aku dari Golongan Apolos, tidak ada yang salah! Lucu ketika perselisihan muncul dari dua hal yang sama-sama “benar”. Perselisihan mereka bukan tentang hal prinsip tapi tentang mengidolakan manusia. Pernah suatu waktu Petrus melakukan kesalahan yang prinsipil. Petrus menolak diundang ke rumah orang Kristen yang bukan Yahudi, hanya karena takut dicela oleh orang-orang Kristen Yahudi. Paulus tidak bisa menerima, mereka pun bertengkar dan berselisih. Sobat obor sedangkan perbedaan prinsipil jika dikomunikasikan dengan kerendahan hati bisa selesai apalagi perbedaan seperti yang dialami jemaat di Korintus. Perpecahan sedapat mungkin tidak boleh dibiarkan terjadi; akan tetapi, perbedaan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari ketika ada dalam kesatuan dan persatuan.
Sobat obor, dalam kehidupan kita pun sering terjadi hal yang demikian. Dalam pelayanan misalnya kita memperdebatkan hal hal yang sebenarnya tidak perlu, tidak prinsip. Contoh: ada yang mengatakan, Roh Kudus bekerja seperti angin topan, bekerjanya jelas, meledak-ledak, terjadi perubahan yang radikal, dan sebagainya. Lihat pekerjaan Roh Kudus dalam pertobatan Paulus (Kis 9). Ada juga yang mengatakan pekerjaan Roh kudus seperti angin sepoi-sepoi, angin yang lembut, tidak selalu kentara, tetapi terasa. Lihat karya Roh Kudus dalam diri Thomas dan Petrus. Apakah dua pendapat itu pantas untuk diperdebatkan? Contoh lain, babtisan. Ada cara selam, ada curah, apakah cara harus memunculkan perselisihan? Soal Babtisan yang prinsip bukan caranya, tetapi babtislah dalam nama Bapa, anak dan Roh Kudus (mat 28:16-20). Apakah Kristus terbagi-bagi? Tidak, bukan? Kristus hanya satu. Kalau begitu mengapa harus ada perpecahan? Kira-kira seperti itulah nasehat Paulus kepada jemaat di Korintus dalam suratnya yang pertama.
Berangkat dari situ Paulus menjelaskan tentang hikmat Allah dan hikmat manusia. Ada yang melihat pemberitaan tentang salib suatu kebodohan tetapi bagi orang yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. Hal ini Prinsip! Salib bukan kebodohan tapi kekuatan. Berita tentang Kristus yang disalibkan; bagi orang yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang bukan yahudi suatu kebodohan. Tapi bagi orang percaya baik orang yahudi maupun orang bukan yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Ini prinsip, berbicara tentang iman. Dalam konteks itu, ini perbedaan yang sudah dan belum percaya kepada Kristus. Perbedaan antara orang yang hidup dengan hikmat Allah dan hikmat manusia. Perbedaan ini bukan dibiarkan, harus dikomunikasikan, bahasa yang digunakan pemberitaan tentang salib. Pemberitaannya juga bukan hanya lewat lisan dan tulisan tapi yang paling utama lewat kerendahan hati menjalani kehidupan. Jangan bermegah. 1 Korintus 2:1-5 Paulus memberikan kesaksian tentang kerendahan hati.
Sobat obor, Dalam bacaan ini Paulus berbicara tentang hikmat manusia dan hikmat Allah. Harus diakui Manusia seringkali melihat latar belakang, melihat apa yang nampak oleh mata. Melihat materi, jabatan, kedudukan, berpengaruh dan terpandang. Tapi Allah melihat sesuatu yang berbeda. “Dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah (ayat 28-29). Bacaan kita ini menjawab dan diharapkan oleh Paulus menyelesaikan perselisihan yang terjadi di korintus. Jangan memegahkan orang dan diri sendiri. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. Amin (FPK)

