SALIB ADALAH WUJUD HIKMAT ALLAH | 1 KORINTUS 1:18

Sobat Obor, tentunya kita pernah melihat gambar atau patung Tuhan Yesus disalib. Di bagian mana tangan Tuhan Yesus dipaku? Semoga kita tidak buru buru menjawab dengan jawaban di telapak tangan. Jawaban yang tepat ialah pergelangan. Fakta lain tentang salib yang bisa saja tidak ketahui, ialah; orang yang disalib tidak disalib dalam keadaan berdiri lurus. Kedua paha dan lututnya miring ke satu sisi dan kakinya dipaku atau dijepit dengan kayu lalu di paku ke salib itu. Pinggulnya didudukkan di sebatang balok yang menempel di kayu salib itu. Orang yang disalib separuh berdiri dan separuh duduk. Ia meninggal selain rasa nyeri dan sakit yang dahsyat juga karena asphyxia, yaitu kelemasan disebabkan kekurangan zat asam dan ekses atau kelebihan muatan karbodioksida di dalam darah. Biasanya orang yang disalib tidak langsung mati. Ia harus menderita beberapa hari lamanya kemudian mati dengan mengenaskan. Begitu kejamnya cara hukuman ini, yang dimulai oleh bangsa punisia dan persia, sehingga pemerintah Roma menerapkan bahwa penyaliban hanya dijalankan untuk penjahat kelas berat, yaitu penyamun berdarah dingin, budak yang melarikan diri, dan pemberontak yang melawan kekuasaan Roma. Hukuman di kayu salib adalah hukuman yang terhina.

Dimata orang yahudi, kematian disalib bukan hanya hinaan, melainkan juga kutukan dari Allah. “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib” (Gal 3:13b berdasarkan Ul. 21:23). Mati disalib sungguh memalukan. Secara sosial, mati disalib adalah hinaan. Secara religius, mati disalib adalah kutukan. Tapi mengapa Gereja purba tidak menutup-nutupi kematian Yesus? Mengapa gereja purba tidak malu mengakui bahwa Yesus mati secara terhina dan terkutuk? Paulus memberikan kesaksian, “sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah”.

Sobat obor, Gereja sepanjang masa tidak malu mengakui bahwa Yesus mati secara terhina dan terkutuk. Bahkan itulah pemberitaan kita, pemberitaan tentang salib. Mengapa? Karena Yesus menanggung hina dan kutuk untuk keselamatan kita. Demikian berat dosa umat manusia yang perlu ditebus, sehingga demikian berat penderitaan Yesus untuk menebus. Apakah keyakinan dan pengakuan itu masuk akal dan adil? Tidak inilah hikmat Allah. Sebab menurut keadilan, yang harus dihukum adalah yang bersalah. Jadi, Dalam hal salib yang ditanggung Yesus, Allah telah bertindak secara kurang masuk akal dan kurang adil? Benar. Jikalau Allah menempuh cara yang wajar dan adil, maka kitalah yang akan menanggung penderitaan, hinaan dan kutukan itu. Amin (FPK)