HIKMAT ALLAH YANG JAUH LEBIH TINGGI DARI HIKMAT MANUSIA | 1 KORINTUS 1:20-24
Sobat Obor, surat 1 Korintus merupakan salah satu dari tujuh surat yang dipastikan ditulis Paulus. Ketujuh surat itu secara kronologis adalah 1 Tesalonika, Galatia, 1 dan 2 Korintus, Filemon, Filipi, dan Roma. Tiga surat lain, yaitu Kolose, Efesus dan 2 Tesalonika agaknya ditulis oleh penerus yang memakai pikiran Paulus untuk mengembangkan teologi Paulus sesudah kematiannya, sedangkan surat 1 dan 2 Timotius dan Titus hanya mengacu pada ajaran Paulus. Persamaan substansial dari ketujuh surat Paulus yaitu Tumpuan sebuah pengalaman yang secara total telah mengubah jalan hidupnya. Pengalaman itu disebut “jalan ke Damsyik” dan terjadi sekitar lima tahun setelah kematian Yesus (lih. kisah 9:1-22).
Pengalaman iman Paulus ini juga sulit diterima jika mengunakan hikmat manusia. Peristiwa ini dilaporkan dengan dua laporan yang bertolak belakang. Di satu pihak dilaporkan bahwa rombongan Paulus “mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang juga pun” (Kis.9:7). Sebaliknya, di lain pihak tertulis bahwa mereka “melihat cahaya itu, tetapi suara Dia… tidak mereka dengar” (Kis.22:9). Jalan pikiran Paulus sulit untuk kita yang terpisah jauh dari budaya Yahudi dan budaya Yunani yang bersintese dalam benak Paulus. Pemikiran Paulus juga sulit sebab sering memakai gaya bahasa metafora. Satu lagi, spiritualitas Paulus bersifat mistik (jangan juga dipahami dalam konteks kita yaitu tentang hal gaib, sihir dan pengalaman spiritualitas yang liar) sehingga apa yang bagi dia adalah realita bagi kita terdengar aneh. Kesulitan ini juga yang kita alami ketika mencoba memahami tulisan Paulus kepada jemaat di Korintus tentang hikmat Manusia dan hikmat Allah. Tentu jemaat di Korintus yang menerima surat Paulus ini tidak mengalami kesulitan seperti yang kita Alami untuk mengerti maksud tulisan Paulus. Apa yang dimaksudkan Paulus dengan pertanyaan pertanyaan dalam ayat 20? Pertanyaan yang diajukan Paulus bukan untuk dijawab melainkan pertanyaan retoris yang bersifat konfrontatif. Paulus sedang menguncang cara berpikir jemaat di Korintus. Hikmat filsafat, keahlian agama, kepandaian retorika gagal dan tidak mampu memahami karya Allah melalui salib. Paulus bukan anti intelektual tapi mengecam kesombongan intelektual yang menolak salib karena tampak sebagai kebodohan.
Sobat obor, pertanyaan pertanyaan ini menegaskan bahwa keselamatan bukan lahir dari kemampuan manusia mencari Allah. Justru Allah menyatakan diri-Nya dengan cara yang mengejutkan yaitu melalui Kristus Yesus yang disalibkan. Semoga kita diberikan kemampuan untuk mengerti tapi juga semoga kita diberikan kerendahan hati untuk terus percaya pada hikmat Allah yang jauh lebih tinggi dari hikmat manusia. Amin (FPK)

