BERANI MENINGGALKAN MASA LALU | YOHANES 4 : 28-30

Sobat Obor, lihatlah bahwa perempuan Samaria itu meninggalkan tempayannya. Jika kita mau jujur, tempayan adalah alat yang sangat penting baginya, itu adalah sarana untuk menyambung hidup, dan alasan utamanya datang ke sumur. Namun, setelah mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus, prioritasnya berubah seketika. Tempayan yang tadinya begitu penting, tiba-tiba menjadi penghalang bagi langkahnya untuk membagikan kabar sukacita. Tempayan ini bisa melambangkan banyak hal dalam hidup kita. Bisa jadi itu adalah rasa nyaman, tradisi, atau bahkan rasa malu akan masa lalu yang terus kita pegang erat. Perempuan ini sebelumnya mungkin hanya berani keluar di siang panas demi menghindari tatapan orang, namun perjumpaan dengan Sang Air Hidup membuatnya berani meninggalkan perlindungan tempayannya. Ia tidak lagi peduli pada alat pengambil air itu karena ia telah menemukan sumber air kekal. Ia berlari ke kota bukan dengan tangan hampa, melainkan dengan keberanian untuk bersaksi.

Dalam dunia pelayanan dan penginjilan saat ini, sering kali kita gagal bergerak karena terlalu sibuk memegang “tempayan” kita masing-masing. Kita takut meninggalkan zona nyaman, atau merasa tidak layak melayani karena dosa masa lalu. Padahal, kehambaan yang mengucap syukur menuntut kita untuk berani melepaskan beban-beban tersebut. Perempuan Samaria ini mengajar kita bahwa untuk bersaksi dengan berani, kita tidak perlu menunggu diri kita menjadi sempurna. Kita hanya perlu kejujuran untuk menceritakan apa yang telah Tuhan kerjakan. Apa “tempayan” yang hari ini menghalangi langkahmu untuk melayani? Apakah itu rasa minder, ego pribadi, atau masa lalu yang kelam? Beranilah meninggalkannya di kaki Yesus. Dunia butuh pemuda yang berani bersaksi bahwa di dalam Kristus, selalu ada pemulihan dan masa depan yang baru. Ketika kita berani melepas beban kita, maka langkah kita dalam penginjilan dan pendidikan akan menjadi ringan dan penuh kuasa. Amin (DLW)