DIDIKLAH MEREKA DI DALAM AJARAN DAN NASIHAT TUHAN | EFESUS 6: 1-9 | Pdt. Meifira Tanor, M.Th
Sobat Obor, suatu malam, seorang pemuda duduk sendirian di kamarnya. Lampu redup. Musik pelan mengalun, tetapi tidak benar-benar ia dengar. Di tangannya ada ponsel dengan chat dari orang tuanya yang belum ia balas. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena lelah. Lelah dengan tuntutan. Lelah dengan ekspektasi. Lelah karena merasa tidak pernah cukup. Di sisi lain, di ruang keluarga, orang tuanya juga duduk diam. Mereka ingin mengerti, tetapi tidak tahu bagaimana menjangkau. Mereka ingin mendidik, tetapi seringkali yang keluar justru nada tinggi. Dua hati. Satu rumah. Tetapi terasa jauh.
Efesus 6:1-9 berbicara tepat di tengah jarak itu. “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan.” Kalimat ini mungkin terasa berat bagi banyak pemuda. Karena realitanya, tidak semua relasi dengan orang tua berjalan mulus. Ada luka. Ada kesalahpahaman. Ada kata-kata yang terlanjur menyakitkan.
Tetapi Firman Tuhan menolong kita melihat bahwa ketaatan ini bukan sekadar kewajiban kosong. “Di dalam Tuhan” berarti ketaatan itu punya arah rohani. Kita belajar taat bukan karena orang tua selalu benar, tetapi karena kita sedang belajar hidup benar di hadapan Tuhan.
Artinya, ketaatan itu bukan tentang mereka saja, tetapi tentang siapa kita di hadapan Allah. Namun firman ini tidak berhenti di situ. Paulus langsung berbicara kepada orang tua: “Jangan bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu.” Ini penting. Karena seringkali, generasi muda tidak memberontak tanpa alasan. Ada luka yang tidak disadari. Ada tekanan yang terus menumpuk.
Memang, sikap terlalu keras, tuntutan yang tidak realistis, atau perlakuan yang tidak adil bisa menumbuhkan amarah dalam hati anak. Dan amarah itu, jika tidak ditangani, bisa berubah menjadi jarak. Karena itu Paulus memberi arah: “Didiklah mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Ini bukan sekadar soal aturan. Ini soal relasi.
Sobat obor, ini berarti bahwa kita juga sedang belajar. Belajar memahami, bukan hanya menuntut dimengerti. Belajar menghormati, bahkan ketika tidak selalu sepakat. Belajar membuka hati, meskipun tidak mudah. Karena iman kita tidak diuji hanya di gereja, tetapi di rumah, di percakapan sederhana, di sikap sehari-hari, di cara kita merespons orang tua.
Lalu Paulus membawa kita ke dunia yang lain, yaitu pekerjaan. Dunia yang juga sangat dekat dengan kehidupan pemuda hari ini, kuliah, kerja, pelayanan, tanggung jawab. Ia berkata, lakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan. Artinya, Kita tidak lagi hidup untuk dilihat orang. Kita tidak lagi bekerja hanya ketika diawasi. Kita belajar setia, bahkan ketika tidak ada yang memperhatikan. Karena kita tahu, Tuhan melihat.
Dan kepada mereka yang punya posisi seperti pemimpin, senior, atau siapa pun yang punya pengaruh, firman ini juga berbicara: perlakukan orang lain dengan hormat. Jangan merasa lebih tinggi. Karena kita semua berdiri di hadapan Tuhan yang sama.
Sobat obor, renungan ini seperti cermin bagi pemuda hari ini. Mungkin ada yang sedang berjuang dengan relasi keluarga. Mungkin ada yang merasa tidak dipahami. Mungkin ada yang mulai lelah menjalani tanggung jawab. Tetapi firman ini mengajak kita kembali pada satu hal sederhana, namun dalam: hidup “di dalam Tuhan.” Bukan berarti semuanya langsung mudah. Tetapi ada perubahan arah. Dari melawan menjadi belajar. Dari menjauh menjadi mencoba mendekat. Dari hidup untuk diri sendiri menjadi hidup untuk Tuhan. Dan mungkin saat ini, seperti pemuda di awal cerita itu, kita masih duduk dengan banyak pergumulan.
Tetapi Tuhan tidak jauh. Ia hadir di tengah relasi yang rumit. Ia bekerja di tengah hati yang lelah. Ia memulihkan, perlahan tetapi nyata. Dan dari situ, kita belajar, sedikit demi sedikit tentang apa artinya hidup dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Amin (MT)

