BENIH KEBAHAGIAAN SEJATI | EFESUS 6 : 2-3
Sobat Obor, ada banyak anak muda yang merasa bahwa menghormati orang tua adalah sesuatu yang kuno, bahkan membatasi kebebasan. Di tengah arus zaman yang mengagungkan kemandirian, relasi dengan orang tua sering kali menjadi renggang. Hal ini disebakan bukan karena tidak ada kasih, tetapi karena ego yang tidak mau merendah. Kita ingin didengar, tetapi lupa untuk mendengar. Kita ingin dimengerti, tetapi enggan memahami.
Dalam Efesus 6:2-3, Rasul Paulus menulis, “Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.” Kata “hormat” di sini bukan sekadar tindakan luar, tetapi sikap hati yang menghargai nilai dan peran orang tua sebagai wakil otoritas Allah dalam kehidupan anak. Dalam budaya Yahudi, menghormati orang tua berarti mengakui bahwa melalui merekalah kehidupan diberikan. Ada tanggung jawab moral dan spiritual untuk memperlakukan mereka dengan penuh kasih dan penghargaan. Ini adalah satu-satunya perintah yang disertai janji yang jelas, yaitu kebahagiaan dan umur panjang. Jadi, ketika relasi dengan orang tua dijaga dengan hormat dan penuh kasih, hidup menjadi lebih selaras, lebih damai, dan lebih terarah. Sebaliknya, jika kita memberontak dan menunjukan sikap tidak hormat, relasi akan terputus dan menyebabkan kesedihan batin.
Sobat obor, firman saat ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi undangan untuk memeriksa hati. Mungkin ada luka dengan orang tua. Mungkin ada kata-kata yang belum terucap. Tetapi menghormati tidak selalu berarti setuju dalam segala hal; menghormati adalah memilih untuk tetap mengasihi, bahkan ketika hidup tidak mudah. Menghormati orang tua adalah latihan kerendahan hati. Itu adalah bentuk iman yang nyata. Iman yang tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam relasi sehari-hari. Dan di sanalah, dalam ketaatan yang sederhana namun dalam, Tuhan menanamkan benih kebahagiaan yang sejati. Amin (MT)

