KAMI ADALAH PENDATANG DAN WARGA ASING | 1 TAWARIKH 29 : 15
Sobat Obor, pasangan muda Swedia, David dan Svea Flood pergi ke pedalaman Kongo untuk memberitakan kebenaran Firman Tuhan bagi masyarakat disana. Mereka datang di Kongo dan hidup sebagai pendatang, orang asing di lingkungan dimana mereka ditolak, tidak diterima. Mereka diusir sehingga mengalami kelaparan dan akhirnya istri David meninggal setelah melahirkan. David pun akhirnya kembali ke Swedia dan merasa gagal sebagai seorang pemberita Injil. Sebab di Kongo hanya ada satu orang yang percaya kepadanya yaitu seorang anak yang adalah penjual telur. Akan tetapi setelah puluhan tahun kemudian sang anak penjual telur ini tumbuh menjadi seorang pendeta dan melalui pelayananya ribuan orang bertobat. Benih yang ditanam oleh orang asing akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa.
Sobat obor, hari ini kita juga membaca bagaimana raja Daud mengatakan bahwa kami adalah orang asing (Ibr. ger, pendatang tanpa hak tanah) dan pendatang (Ibr. toshav, penduduk sementara); sebagai bayang-bayang (Ibr. katsel, secara teologis diartikan tidak tetap, cepat berlalu, keterbatasan manusia serta kefanaan hidup) tidak ada harapan (Ibr. miqveh, dapat juga diartikan tidak ada sesuatu yang bisa dipegang). Raja Daud hendak menyatakan bahwa sebagai manusia mereka hanyalah pendatang dan orang asing di dunia ini termasuk di tanah mereka Israel. Sebab sekalipun tanah itu dikelola dan diolah oleh mereka, tanah itu tetaplah milik Tuhan. Hal ini sama seperti juga nenek moyang bangsa Israel yang kemudian seperti bayang-bayang yang hilang lenyap kembali kepada pemilik-Nya.
Sobat obor, sebagai orang muda Kristen kita diingatkan oleh firman Tuhan agar jangan pernah menyia-nyiakan setiap waktu yang Tuhan beri bagi masing-masing kita. Sebab dunia ini bukanlah tempat tinggal tetap kita. Oleh karena itu jangan sampai kita terlena dengan dunia ini dan akhirnya lupa bahwa kita hanyalah orang asing dan pendatang di dalamnya. Suatu saat kita akan kembali pulang kepada pemilik kehidupan kita. Amin (ARMI)

