BERTINDAK HATI-HATI | 2 TAWARIKH 19:7

Sobat Obor, Setiap hati manusia pasti dipenuhi oleh sesuatu yang paling dihormati, paling dikagumi, dan paling ditakuti. Apa  yang  menguasai  hati  akan  membentuk  cara  berpikir, menentukan keputusan, mengarahkan tindakan, bahkan mengendalikan seluruh kehidupan. Masalahnya, hati manusia sering kali dikuasai oleh banyak ketakutan lain: takut gagal, takut ditolak, takut kehilangan pekerjaan, takut kehilangan harta, takut akan masa depan, atau takut terhadap penilaian orang lain. Semua ketakutan itu menjanjikan rasa aman, tetapi pada akhirnya tidak mampu memberikan damai yang sejati. Hanya takut akan Tuhan yang mampu menggantikan semua ketakutan itu. Ketika hati dipenuhi oleh kekaguman kepada Allah, ketakutan terhadap hal-hal lain mulai kehilangan kuasanya. Takut akan Tuhan melahirkan keyakinan, keberanian, dan pengharapan karena hidup berada di dalam tangan Allah yang berdaulat.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang takut akan Tuhan, karena hasil takut akan Tuhan adalah memiliki hikmat untuk memimpin. Yosafat yang memilih hakim-hakim berharap agar para hakim yang dipilih dapat memimpin dengan takut akan Tuhan. Sumber kepemimpinan yang benar berasal dari Allah. Yosafat menyadari bahwa kepemimpinan bukan sekadar hasil dari kemampuan pribadi, kecerdasan, atau latar belakang, melainkan panggilan dari Tuhan. Seorang pemimpin sejati memahami bahwa dirinya hanyalah pelaksana kehendak Allah, bukan penguasa mutlak. Oleh karena itu, setiap keputusan yang diambil seharusnya didasarkan pada relasi yang hidup dengan Tuhan melalui doa dan pergumulan pribadi. Kesadaran ini menolong pemimpin untuk tetap rendah hati dan bergantung kepada Tuhan dalam menjalankan tugasnya.

Sobat obor, Sesungguhnya, kita semua adalah pemimpin, paling tidak pemimpin bagi diri kita sendiri. Sebelum kita dapat memimpin orang lain, kita terlebih dahulu harus dapat memimpin diri sendiri. Jika kita takut akan Tuhan, kita akan memperoleh jalan yang tepat untuk melakukan keduanya. Jadilah seorang yang melakukan segala hal dengan benar, yang benci kepada suap, dan menjadi orang-orang yang dapat dipercaya. Agar kita pun dapat menjadi terang dan garam bagi bangsa ini. Amin (BFP)