Kasihilah Musuhmu Dan Berbuatlah Baik | Lukas 6: 27-36

Pada zaman Yesus hidup, kehidupan orang Yahudi pada saat itu sangat dipengaruhi oleh hukum yang dinamakan Lex Tallionis. Dalam hukum ini, orang bersalah harus diberikan balasan yang setimpal. Mata ganti mata, gigi ganti gigi, dan seterusnya. Imamat 24: 19-21, “Apabila seseorang membuat orang lain sesamanya bercacat, maka seperti yang telah dilakukannya, begitulah harus dilakukan kepadanya: patah ganti patah, mata ganti mata, gigi ganti gigi: seperti dibuatnya orang lain bercacat, begitulah harus dibuat kepadanya”.

Tetapi dalam hal ini, Yesus memberikan pengajaran yang berbeda. Yesus mengajarkan orang untuk mengasihi musuh, berbuat baik kepada mereka yang membenci kita, memberkati orang yang mengutuk kita, dan berdoa bagi orang yang mencaci kita (ayat 27-28). Sepintas, peritah ini aneh. Namanya juga musuh. Tentu saja musuh itu harus kita lawan, kita basmi, kita benci, bukan untuk kita kasihi. Apalagi, dunia dimana kita hidup ini adalah dunia yang diwarnai dan dilumuri oleh permusuhan dan kebencian. Bunuh membunuh, teror menteror. Kalau kata Friedrich Nietzche: “musuh itu untuk dikalakan, bukan untuk dikasihi”. Agaknya, sulit untuk mempraktekkan perintah Yesus yang satu ini. Karena, pada kenyataannya dunia menawarkan hal yang berbeda dan berbanding terbalik. Bagaimana kita bisa mengasihi musuh-musuh kita?

Bagaimana kita bisa mencintai orang-orang yang memutuskan perang dan membunuh begitu banyak orang? Bagaimana kita mengasihi orang yang menyakiti kita? Tampaknya sulit untuk mengasihi musuh-musuh kita, tetapi Yesus meminta hal ini kepada kita. Yesus berkata: “Kasihilah musumu, berbuatlah baik kepada mereka yang membenci kamu. Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu, berdoalah bagi orang yang mencaci kamu”. Minggu, 23 Juni 2024 Renungan Harian Obor Penulis : Pdt. Meifira Tanor, M.Th Lukas 6: 27-36 Kasihilah Musumu Dan Berbuatlah Baik OBOR EDISI JUNI | 37 Perintah itu indah didengar, namun begitu sulit dilakukan. Namun, jika kita pahami lebih dalam, perintah ini sungguh amat praktis. Karena apakah obatnya bagi dunia yang diwarnai kebencian, kalau bukan kasih? Apabila kebencian diobati dengan kebencian apakah hasilnya? Bila penyakit gula diobati dengan gula apakah hasilnya? Yesus mengajarkan murid-murid-Nya untuk mengasihi baik orang jahat maupun orang baik. Jikalau murid Kristus hanya mengasihi orang yang baik, apakah jasanya? Apakah perbedaannya dengan orang jahat? Sebab orang jahat juga dapat melakukan hal yang sama. Jikalau kita mengasihi orang yang mengasihi diri kita, apakah jasanya? Apakah perbedaannya dengan orang jahat? Sebab orang jahat juga melakukan hal yang demikian.

Dalam pengajaran ini, Yesus menekankan bahwa sebagai murid Kristus kita harus memiliki suatu ciri yang membedakan kita dengan dunia. Murid Kristus harus dapat mengasihi tanpa syarat, kepada siapapun juga. Sebagaimana Allah“membuat matahari terbit bagi si jahat dan si baik” dan “curah hujan bagi orang yang adil dan tidak adil.”

Sobat obor, jika demikian apa yang harus kita lakukan jika kita hendak mengasihi musuh? Yang pertama adalah : kita harus belajar mengampuni. Karena, hanya kalau kita dapat mengampuni, kita dapat mengasihi. Jika dihadapan musuh kita, kita berlaku manis, namun dibelakang kita belum bisa mengampuni, itu namanya omong kosong. Sama halnya memang kita tidak mau mengasihi. Kita memang tidak dapat mengasihi musuh kita, seperti kita mengasihi orang-orang yang begitu dekat dengan kita. Tapi perintah Yesus adalah “tidak peduli apapun yang orang lakukan kepada kita, bahkan seandainya ia berbuat jahat dan mencelakakan kita, kita akan tetap mengusahakan yang terbaik baginya”.

Sobat obor, pada zaman modern ini, nilai-nilai kemurahan hati semakin terkikis. Simpati, empati dan pengampunan menjadi suatu hal yang langka. Orang bisa sambil tertawa membicarakan musibah yang menimpa orang lain. Orang gampang melontarkan celaan, fitnah, gosip kepada orang lain tanpa berpikir panjang. Tetapi melalui perikop ini kita diajarkan untuk bertindak dengan hal yang berbeda. Bahkan kita diajarkan untuk berdoa bagi musuh kita. Kita berdoa untuk apa yang membuat kita menderita. Ingat kata Firman: Jangan keraskan hatimu. Jangan mahalkan hatimu. Tetapi hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati. Amin (MT)