Melihat Natal Dengan Iman | Lukas 1: 37-38

Natal adalah suatu cerita sederhana sekali. Seorang wanita yang bersalin. Bayi yang dibungkus lampin dan diletakkan dipalungan. Tiada keindahan sedikitpun. Tiada hiasan ruangan yang megah. Tiada pohon terang yang mahal. Tiada paduan suara yang menawan. Tiada pentas yang menarik. Semuanya serba sederhana, gelap dan sunyi. Itulah natal. Saat dimana tiada ratusan atau ribuan orang yang menyambutnya. Tiada pejabat yang memberi sambutan. Hanya dua orang saja ditambah para gembala yang melarat.

Pertama-tama adalah Maria. Ia adalah wanita yang mendengar serta percaya kepada berita besar tentang apa yang akan terjadi. Ada banyak hal yang tidak dimengerti olehnya. Tetapi ia menerima:”sesungguhnya aku inilah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. disampngnya berdiri Yusuf, yang karena percaya juga membawa Maria ke Betlehem. Ia tahu bahwa Maria mengandung sebelum resmi berhubungan dengan Dia. Ia mendengar perkataan malaikat yang menerangkannya dan ia percaya. Demikilanlah pada malam yang sunyi, Kristus dimiliki oleh para orang yang percaya. Sekalipun tiada kemewahan, mereka dapat seperti Simeon yang berkata: “Mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu, ya Tuhan”. Mata mereka dapat melihat bahwa di dalam diri sang Bayi itu Tuhan Allah sendiri datang untuk menebus dosa mereka. Inti natal memang hanya dapat dilihat oleh iman.

Sobat obor, dunia segera kecewa melihat Juru selamat yang demikian. Di kemudian hari jelas bagaimana dunia tidak mau menerima Kristus. Mereka mengharapkan tokoh yang gaga perkasa, yang dapat mengalahkan segala musuh yang merintangi hidup. Mereka tidak sedang melihat, betapa berharganya kehadiran sang Bayi itu. Sobat obor, hari ini kita belajar bahwa natal harus dilihat dati kacamata iman. Hanya imanlah yang dapat melihat keindahanNya. Hanya imanlah yang dapat tahu, bahwa di dalam sang Bayi itu, sabda atau Firman Allah sudah menjadi manusia dan berdiam di antara kita. Sebagaimana Maria percaya dengan iman, sekalipun ia tidak memahami secara akal, apa maksud Allah. Tapi iman itulah yang menuntun Maria untuk berserah penuh kepada Allah. Amin (MT)