BERBAHAGIALAH | Mazmur 1:1-2

Berbahagialah…”    demikian pemazmur memulai seruannya. Seruan                   ini             mengandung  nasihat       yang             sarat                    dengan pengajaran. Pemazmur seperti berdiri di atas mimbar dan menyerukan kabar yang melegakan kepada jemaatnya. Siapa yang tidak ingin disebut berbahagia? Jujur saja, ini adalah dambaan setiap orang. Kebahagiaan malah sering dipandang segala-galanya dalam hidup. Alangkah sayangnya bila kebahagiaan itu diletakkan setara dengan hal- hal duniawi. Kekayaan. Kesuksesan. Kepintaran. Kekuasaan. Kehormatan. Tentu tidak salah memperoleh semuanya itu. Yang keliru ialah ketika hal- hal itu kita jadikan ukuran untuk sebuah kebahagiaan. Sebaliknya, sungguh tidak adil bila kehidupan yang sarat dengan persoalan lantas dijadikan patokan untuk ketidak-bahagiaan.

Sobat obor, hidup yang bahagia bukanlah hidup dengan memungkiri kenyataan. Sebaliknya, hidup bahagia itu adalah suatu kehidupan yang realistis. Kita mengakui kenyataan yang ada. Kita menerima setiap keadaan. Kita mengharapkan yang terbaik namun tetap bersiap untuk yang terburuk. Sangat sederhana sekaligus rumit. Mengapa? Karena realistis menurut ukuran duniawi berbeda dengan realistis-nya kita selaku umat yang mengaku percaya kepada Allah. Realistis secara duniawi cenderung menghasilkan pandangan yang sempit. Ketika gagal, orang tidak mau berusaha lagi. Ia berpikir bahwa hanya sebatas itulah kemampuannya. Ia tidak berani untuk mencoba karena menganggap kegagalannya sebagai realitas paten yang tidak bisa diubah. Ini semua nasib, tidak ada gunanya melawan, lebih baik pasrah saja. Jelas ini bukan pandangan yang alkitabiah. Realistis secara duniawi juga dapat menjebak orang pada perilaku hidup yang buruk tanpa merasa bersalah. Bacaan kita saat inu memandang kebahagiaan itu dari sudut pandang yang berbeda. Bagi pemazmur, orang-orang yang dikatakan berbahagia ialah orang-orang yang berani melawan arus; bergaul dengan orang-orang berkelakuan buruk tetapi tidak ikut berperilaku buruk. Ikan yang hidup di air asin saja tidak ikut menjadi asin. Harus punya pendirian.

Lalu apa dasar dari pendirian kita? Tidak salah lagi, firman Tuhan! Taurat Tuhan, menurut bahasa pemazmur. Sobat obor Memilih jalan hidup orang benar, menjauhi dosa, dan gemar firman Tuhan. Memilih jalan hidup orang benar disebut berbahagia. Amin(FPK)