SEMUA ORANG YANG DIMPIMPIN OLEH ROH ALLAH ADALAH ANAK ALLAH | ROMA 8 : 1 – 17 | Pdt. Meifira Tanor, M.Th
Sobat Obor, Ada kehidupan yang dikuasai oleh tabiat manusia berdosa, yang mengarah dan berpusat pada diri sendiri. Kehidupan dimana seseorang bertindak sesuka hati dan sesuai perasaannya sendiri. Pada masing-masing orang, kita melihat banyak kehidupan yang di kendalikan oleh hawa nafsu, kesombongan atau ambisi. Sifat kehidupan seperti itu jelas terpusat pada hal-hal yang diingini manusia di luar Kristus.
Kehidupan seperti ini tentu berbeda dengan kehidupan yang di pimpin oleh Roh Allah. Seorang yang dikuasai oleh Roh Allah diibaratkan seperti manusia yang hidup dalam udara, tak pernah terpisahkan. Sebagaimana ia bernafas dalam udara, dan udara itu memenuhinya, demikianlah Kristus memenuhinya. Pikirannya bukan pikiranya sendiri, melainkan keinginan Kristus yang menjadi hukum bagiNya. Ia dikendalikan oleh Roh, dikendalikan oleh Kristus dan difokuskan mengarah kepada Allah.
Tentu kedua macam kehidupan ini menuju arah yang berlawanan. Kehidupan yang dikuasai oleh keinginan dan tabiat manusia yang berdosa pasti menuju kepada maut karena tidak ada masa depan di dalamnya. Sedangkan kehidupan yang dikuasai oleh Roh, berpusat pada Kristus dan tertuju pada-Nya.
Bagian perikop ini mengajak kita merenungkan apa artinya menjadi manusia yang telah dikuasai oleh Roh Kudus. Paulus tidak bicara soal mujizat atau bahasa roh terlebih dahulu. Ia bicara tentang sesuatu yang lebih dalam, sebuah pembebasan dari hukuman dosa. Ia berkata: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman.” Seorang yang hidup dalam Roh, akan menerima kebebasan. Namun kebebasan yang dimaksud bukanlah kebebasan untuk hidup sesuka hati. Justru karena dibebaskan, kita dipanggil untuk hidup menurut Roh. Paulus menggambarkan dua kehidupan yaitu, hidup dalam daging dan hidup dalam Roh. Yang satu membawa kepada maut, yang lain membawa kepada hidup dan damai sejahtera.
Dalam bacaan ini, Paulus menganalogikan bahwa orang percaya yang di pimpin oleh Roh, telah mengalami ‘adopsi’. Dalam arti, bahwa mereka tidak lagi berada dibawah kuasa dosa, tapi telah diberi hak sebagai anak Allah dan menjadi ahli waris. Ketika Roh Allah bekerja dalam diri kita, kehidupan kita sepenuhnya dikuasai oleh Kristus. Ibarat manusia yang menghirup udara yang memenuhi dirinya, demikan juga Kristus memenuhi hidup kita. Pikiran kita bukanlah pikiran sendiri tapi Kristus adalah bagiannya. Keinginan kita bukanlah keinginan sendiri, tapi kehendak Kristuslah yang diutamakan. Karena itu, menjadi anak Allah bukan sekedar status. Tapi merupakan kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus.
Sobat obor, Hari ini kita merayakan Pentakosta, hari ketika Roh Kudus turun atas para murid. Di hari Penakosta kita diingatkan bahwa Roh Kudus bukan hanya kuasa, Dia adalah Pribadi. Dia membawa kita ke dalam hubungan yang baru dengan Allah. Kita bisa menyebut Allah bukan hanya sebagai Tuhan, tetapi sebagai Abba. Di tengah dunia yang dingin dan penuh penghakiman, Roh Kudus membawa kita masuk ke dalam pelukan kasih yang tidak bersyarat.
Hari ini tentu kita tidak melihat api turun dari langit. Tapi Roh Kudus tetap bekerja. Ketika hati yang keras dilunakkan. Ketika seseorang yang jauh dari Tuhan mulai kembali berdoa. Ketika orang yang takut, mulai menemukan keberanian untuk mengampuni atau mengasihi. Karena itu, hari ini, kita diundang bukan hanya untuk merayakan, tetapi untuk membuka hati. Biarlah Roh Kudus membebaskan kita dari rasa bersalah. Biarlah Dia menuntun kita keluar dari hidup yang digerakkan oleh keinginan sendiri. Biarlah Dia menuntun kita masuk ke dalam hidup yang dipimpin oleh kasih. Dan biarlah di dalam Dia, kita hidup sebagai anak-anak Allah, yang bebas, yang dikasihi, dan yang terus dikuatkan sampai kita melihat kemuliaan yang dijanjikan. Amin (MT)

