TUHAN MELIHAT SEMUANYA | FILIPI 2 : 17-18
Sobat Obor, Kita hidup di zaman yang sangat menghargai hasil, tetapi sering melupakan proses. Banyak orang senang berada di atas panggung, tetapi tidak semua orang bersedia menjalani latihan yang panjang. Banyak orang senang disebut pelayan Tuhan, tetapi tidak semua orang siap membayar harga sebuah pelayanan. Padahal, sejak dahulu, pelayanan selalu berjalan beriringan dengan pengorbanan. Pengorbanan dalam pelayanan bukan hanya tentang melakukan pekerjaan yang berat. Pengorbanan sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana. Rela meluangkan waktu di tengah kesibukan, rela mendengarkan pergumulan orang lain ketika diri sendiri sedang lelah, atau rela mengalahkan ego demi menjaga kebersamaan dalam pelayanan.
Sayangnya, budaya zaman sekarang perlahan mengubah cara pandang kita. Segala sesuatu diukur dari kenyamanan. Jika pelayanan mulai melelahkan, kita ingin berhenti. Jika tidak mendapat apresiasi, kita merasa tidak dihargai. Jika pendapat kita tidak diterima, kita mudah kecewa. Tanpa disadari, kita mulai menjadikan pelayanan sebagai tempat mencari pengakuan, bukan lagi sebagai ruang mempersembahkan diri kepada Tuhan. Padahal, pelayanan bukanlah tentang seberapa banyak orang mengenal nama kita, melainkan seberapa besar kasih Tuhan dapat dirasakan melalui hidup kita. Ada sebuah kenyataan yang perlu kita terima: “pelayanan yang tulus hampir selalu menuntut pengorbanan yang sunyi”. Tidak semua orang akan melihatnya. Tidak semua orang akan mengucapkan terima kasih. Tidak semua orang akan memahami lelahnya kita. Tetapi Tuhan melihat semuanya.
Inilah yang sedang diajarkan Paulus dalam Filipi 2:17-18. Ketika ia berkata, “Sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita,” ia sedang mengatakan bahwa hidupnya sendiri telah menjadi persembahan bagi Tuhan. Paulus tidak sedang menghitung apa yang hilang darinya. Ia sedang melihat untuk siapa hidupnya dipersembahkan. Ingatlah bahwa “Pengorbanan yang tidak dilihat manusia, tidak pernah luput dari perhatian Tuhan.” Sebab pada akhirnya, pelayanan bukan hanya tentang apa yang kita korbankan, tetapi tentang kepada siapa hidup ini kita persembahkan. Jika hidup ini dipersembahkan kepada Kristus, tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Amin. (MT)

