MENEPATI JANJI | YOSUA 24:25-28
Sobat Obor, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia janji adalah ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat sesuatu (seperti hendak memberi, menolong, datang atau bertemu). Janji juga adalah persetujuan antara dua pihak (dimana masing-masing menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu). Dari pengertian ini kita melihat bahwa dalam realitas kehidupan sehari-hari bahwa kata ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Ada begitu banyak janji yang tidak ditepati atau dalam prakteknya seringkali diingkari oleh mereka yang telah bersepakat untuk melakukannya. Mungkin juga kita termasuk diantara mereka yang sering berjanji tetapi paling sulit menepatinya.
Sobat obor, dalam bacaan hari ini kita membaca bagaimana Yosua mengikat perjanjian dengan bangsanya serta membuat ketetapan dan peraturan di Sikhem. Yosua kemudian menuliskannya dalam kitab hukum Allah bahkan mengambil batu besar dan mendirikannya di bawah pohon besar, di tempat kudus. Kemudian Yosua mengatakan kepada bangsa itu bahwa sesungguhnya batu inilah akan menjadi saksi terhadap kita supaya jangan menyangkal Allahmu. Kita melihat bahwa Yosua dengan tegas mengingatkan bangsanya bahwa janji yang diucapkan kepada Tuhan bukan hanya sekdar ucapan semata tetapi adalah suatu tindakan nyata yang harus hidup dalam kehidupan bangsa Israel. Setelah itu barulah dia melepaskan bangsa itu kembali ke milik pusakanya.
Sobat obor, John Calvin mengungkapkan When we call upon God as witness, let us remember that falsehood and empty promises are an insult to His Majesty (Ketika kita menjadikan Allah sebagai saksi, ingatlah bahwa dusta dan janji-janji kosong adalah penghinaan terhadap kemuliaan-Nya). Hari
ini kita diingatkan sebagai orang muda untuk mengingat segala janji-janji
yang kita ucapkan bagi orang lain terlebih kepada Tuhan. Sudahkah kita menepatinya ataukah sampai sekarang kita masih menunda-nunda waktu untuk menepatinya? Penuhilah janjimu, terlebih janji imanmu. Jangan sampai kita hidup dalam kebohongan dan kepalsuan. Belum terlambat bagi kita untuk membayar janji-janji kita kepada orangtua, sahabat, gereja dan terlebih kepada Tuhan. Kalau boleh hari ini mengapa harus menunggu esok hari. Amin (ARMI)

