HENDAKLAH KAMU SEHATI SEPIKIR, DALAM SATU KASIH, SATU JIWA, SATU TUJUAN | FILIPI2:1-11 | Pdt. Meifira Tanor, M.Th

Sobat Obor, Rumah yang dibangun bertahun-tahun, dapat runtuh dalam hitungan menit. Hubungan dipelihara dengan kesetiaan, dapat rusak oleh perkataan yang tidak dijaga. Memang, membangun sesuatu itu sulit, tetapi mengahancurkannya bisa sangat mudah. Dan semua itu dimulai dari ego manusia. Di zaman sekarang, hidup bersama bukanlah sesuatu yang mudah. Kita hidup di tengah dunia yang semakin mendorong orang untuk lebih mengutamakan dirinya sendiri. Semua orang ingin didengar, tetapi sedikit yang mau mendengar. Semua orang ingin dihargai, tetapi sedikit yang mau menghargai. Semua orang ingin dipahami, tetapi sedikit yang mau memahami.

Menariknya, Tuhan tidak pernah menciptakan manusia untuk hidup sendiri. Sejak awal penciptaan, manusia dipanggil untuk hidup dalam kebersamaan. Sebab di dalam kebersamaan, manusia belajar untuk mendengar, memahami, mengampuni, dan mengasihi.

Paulus menyadari bahwa ancaman terbesar bagi kehidupan bersama bukanlah persoalan yang datang dari luar, melainkan sesuatu yang tumbuh dari dalam diri manusia, yaitu ego yang tidak mau direndahkan. Karena itulah Paulus menulis kepada jemaat di Filipi, “Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.” Paulus tidak sedang meminta setiap orang menjadi sama. Tuhan tidak pernah menciptakan manusia dengan karakter, pemikiran, dan latar belakang yang seragam. Persatuan yang dimaksud Paulus bukanlah keseragaman, melainkan kesediaan untuk berjalan bersama di bawah pimpinan Kristus.

Paulus mengajak jemaat untuk membangun persatuan yang berakar pada Kristus melalui satu kasih, satu jiwa, dan satu tujuan. Satu kasih berarti memiliki kasih yang sama seperti Kristus, yaitu kasih yang tidak berpusat pada diri sendiri, tetapi rela menerima, mengampuni, dan mengasihi sekalipun ada perbedaan. Satu jiwa berarti hidup dalam kebersamaan

 

yang saling menopang, peka terhadap pergumulan sesama, dan tidak bersikap individualistis. Sementara itu, satu tujuan berarti mengarahkan seluruh kehidupan dan pelayanan untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk mencari kepentingan, pujian, atau pengakuan diri. Paulus ingin menegaskan bahwa persatuan tidak lahir karena semua orang memiliki pemikiran yang sama, melainkan karena semua orang menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupan bersama. Ketika kasih Kristus memenuhi hati, kepedulian terhadap sesama tumbuh, dan tujuan hidup diarahkan kepada Tuhan, maka perbedaan tidak lagi menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi kekuatan yang memperindah kehidupan persekutuan

Paulus kemudian mengingatkan, “Janganlah melakukan sesuatu dengan mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia.” Sebab salah satu penyakit terbesar manusia adalah keinginan untuk selalu menjadi pusat perhatian. Manusia ingin didengar, ingin dihargai, dan ingin diutamakan. Tanpa disadari, keinginan itu sering kali melahirkan persaingan dan merusak kebersamaan. Karena itu, Paulus mengajak setiap orang percaya untuk belajar merendahkan hati. Kerendahan hati bukan berarti menganggap diri tidak berharga, melainkan tidak menjadikan diri sendiri sebagai pusat dari segala sesuatu. Orang yang rendah hati tidak lagi bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?” melainkan, “Apa yang dapat saya berikan?”

Lalu Paulus menunjukkan teladan yang paling sempurna, yaitu Yesus Kristus. Walaupun Ia setara dengan Allah, Ia tidak mempertahankan hak-Nya. Ia mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan taat sampai mati di kayu salib. Ia tidak membangun kemuliaan-Nya dengan meninggikan diri, tetapi dengan merendahkan diri. Saat manusia ingin terus naik, Kristus justru memilih untuk merendahkan diri. Saat manusia mengejar pengakuan justru Kristus mengajarkan pelayanan.

Mungkin inilah yang perlu kita renungkan hari ini. Jangan-jangan yang membuat relasi kita renggang bukan karena persoalannya terlalu besar, melainkan karena tidak ada yang mau mengalah. Jangan-jangan yang merusak persatuan bukanlah perbedaan, melainkan ego yang terus dipelihara. Padahal, persatuan tidak lahir dari orang-orang yang selalu merasa benar, tetapi dari orang-orang yang bersedia merendahkan hati demi menjaga kebersamaan. Sebab pada akhirnya, persatuan bukanlah tentang membuat semua orang menjadi sama. Persatuan adalah tentang menghadirkan kasih Kristus di tengah segala perbedaan. Amin (MT)