JALAN KE BAWAH | FILIPI 2:5-9

Sobat Obor, Manusia akan tertarik jika ada tawaran untuk naik ke puncak. Naik dalam karier, naik dalam popularitas, naik dalam kekuasaan, dan naik dalam pengaruh. Kita diajarkan bahwa semakin tinggi seseorang berdiri, semakin besar pula nilainya. Karena itu, banyak orang menghabiskan hidupnya untuk mengejar pengakuan. Tidak sedikit yang rela bersaing, menjatuhkan orang lain, bahkan kehilangan integritas demi mencapai puncak ketenaran. Naik dianggap berhasil. Tetapi Injil memperlihatkan sebuah kenyataan: ketika manusia sibuk mencari jalan ke atas, Yesus justru memilih berjalan ke bawah.

Dalam bagian ini, Paulus mengajak jemaat Filipi untuk memiliki pikiran dan perasaan seperti Kristus. Ajakan itu bukan sekadar mengubah cara berpikir, tetapi mengubah arah hidup. Sebab hati yang diubah akan melahirkan hidup yang berbeda. Kristus tidak mempertahankan kemuliaan-Nya. Ia rela meninggalkan segala hak-Nya, mengambil rupa seorang hamba, dan masuk ke dalam dunia yang penuh luka. Ia memilih hadir di tengah manusia, berjalan bersama mereka, menangis bersama mereka, hingga akhirnya taat sampai mati di kayu salib. Di mata dunia, salib adalah kegagalan. Namun di mata Allah, salib adalah puncak kasih. Di sanalah kita belajar bahwa kebesaran tidak selalu tampak dalam kekuasaan. Kadang-kadang, kebesaran justru terlihat dalam kesediaan untuk mengalah, mengampuni, dan mengasihi.

Sobat obar, bukankah pergumulan kita sering dimulai ketika ego ingin selalu didahulukan? Kita ingin dimengerti, tetapi lupa memahami. Kita ingin dihargai, tetapi enggan menghargai. Kita ingin diterima, tetapi sulit menerima orang lain apa adanya. Karenanya, Kristus menunjukkan bagi kita jalan yang berbeda. Jalan itu mungkin tidak mudah, tetapi selalu membawa kehidupan. Ia menunjukan jalan kerendahan hati. Ingatlah, Tuhan tidak meminta kita menjadi orang yang paling hebat. Tuhan hanya meminta kita memiliki hati yang bersedia dibentuk seperti hati Kristus. Sebab ketika hati kita berubah, cara kita memandang orang lain pun berubah. Dan ketika cara kita memandang orang lain berubah, dunia akan melihat bahwa Kristus benar-benar hidup di dalam diri kita. Amin (MT)