AKU MENGENAL DOMBA-DOMBAKU DAN DOMBA-DOMBAKU MENGENAL AKU | YOHANES 10:1-21 | Pdt. Dr. S. F. Mawitjere, S. Th, M. Th

Sobat Obor, Dalam Injil Yohanes terdapat satu sisi spesial dengan makna Kristologi yang sangat tinggi menjelaskan tentang KEILAHIAN YESUS (Latin: Deitas Christi) yaitu ketika Yesus menyatakan identitas-Nya melalui tujuh pernyataan EGO EIMI PREDIKATIF (ἐγώ εἰμι, “Akulah”): γώ εμι ὁ ἄρτος τς ζως (Akulah roti hidup 6:35), γώ εμι τφς τοκόσμου (Akulah terang dunia 8:12), γώ εμι θύρα (Akulah pintu 10:7, 9), γώ εμι ποιμν καλός (Akulah gembala yang baik 10:11, 14), γώ εμι ἡ ἀνάστασις καὶ ἡ ζωή (Akulah kebangkitan dan hidup 11:25), γώ εμι ἡ ὁδς καὶ ἡ ἀλήθεια καὶ ἡ ζωή (Akulah jalan, kebenaran, dan hidup 14:6), dan γώ εμι ἡ ἄμπελος ἡ ἀληθινή (Akulah pokok anggur yang benar 15:1). Tujuh frasa Ego Eimi menggemakan nama Allah dalam Keluaran 3:14, ketika Allah berkata kepada Musa sebagai הֶיְהֶא רֶׁשֲא הֶיְהֶא (Ehyeh Asher Ehyeh), «AKU ADALAH AKU», yang kemudian dalam septuaginta (LXX) diterjemahkan dengan istilah Ego Eimi.

Sobat obor, perikop ini dapat dipelajari berdasarkan beberapa pokok pikiran berikut : Pertama (ay. 1–6): Otoritas Ilahi. Yesus memulai dengan kontras antara “pintu kandang domba” dan “pencuri serta perampok.” Secara teologis, ini bukan sekadar kritik moral, tetapi penegasan otoritas ilahi dalam panggilan pelayanan. Calvin menafsirkan bahwa pemimpin yang tidak masuk melalui Kristus adalah mereka yang tidak memiliki mandat ilahi. Domba hanya mengenali suara gembala, ini menunjuk pada doktrin Reformed tentang effectual calling, karya anugerah Allah yang berdaulat di mana Roh Kudus secara efektif membawa orang pilihan kepada Kristus, sehingga mereka pasti merespons dengan iman. Kedua (ay. 7–10): Kristus sebagai Pintu Eksklusif Keselamatan. Pernyataan γώ εμι θύρα (Akulah pintu) merupakan klaim eksklusivitas soteriologis. Dalam kerangka Reformed, ini menegaskan solus Christus secara absolut: tidak ada akses kepada keselamatan di luar Kristus. “Hidup berkelimpahan” (ζων περισσόν) bukan sekadar kesejahteraan eksistensial, melainkan partisipasi dalam hidup perjanjian dengan Allah, yaitu hidup yang dipulihkan dalam kebenaran, kekudusan, dan persekutuan dengan Allah (Ef. 2:1–5). Ketiga (ay. 11–15): Doktrin Substitutionary Atonement. Pernyataan γώ εμι ποιμν καλός (Akulah Gembala yang Baik) mencapai puncaknya dalam frasa “memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya.” Kata hyper πέρ (untuk menggantikan) menunjuk pada dimensi substitusioner kematian Kristus. Dalam teologi Reformed, ini selaras dengan penebusan partikular (definite atonement): Kristus secara efektif menebus umat pilihan-Nya. Relasi Gembala-domba juga mencerminkan kesatuan kasih antara Bapa dan Anak dalam pactum salutis (perjanjian penebusan kekal). Keempat (ay. 16–18): Kedaulatan Kristus. Yesus menyatakan “Aku memberikan nyawa-Ku… tidak seorang pun mengambilnya dari-Ku.” Ini menegaskan kedaulatan Kristus dalam karya salib. Kematian-Nya bukan tragedi historis, tetapi tindakan ketaatan yang ditetapkan dalam kehendak Bapa. Kebangkitan-Nya mengonfirmasi kemenangan perjanjian Allah atas dosa dan maut. Kelima (ay. 19–21) Kehadiran dan perkataan Kristus sebagai Gembala yang Baik menimbulkan perpecahan (schisma) di antara orang-orang Yahudi. Sebagian menolak-Nya dengan tuduhan kerasukan setan, sementara sebagian melihat tanda ilahi dalam karya-Nya. Dalam perspektif Reformed, perbedaan respons ini berkaitan dengan realitas election (pemilihan) dan reprobation (penolakan): mereka yang percaya adalah domba yang “diberikan Bapa” kepada Anak dan digerakkan oleh effectual calling (Yoh. 10:27–29), sedangkan mereka yang menolak tetap berada dalam kebutaan rohani, Allah membiarkan mereka mengeraskan hati (bdk. Rm. 9:18)

Sobat obor, renungan ini memberikan pesan-pesan firman bagi kita generasi muda: Pertama, Solus Christus: Yesus sebagai Pintu (Yoh. 10:7,9) menyatakan bahwa keselamatan hanya tersedia melalui Dia, tanpa alternatif lain. Kedua, Yesus adalah satu-satunya Gembala yang Baik (Yoh. 10:11,14) yang dengan kasih perjanjian menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya, memimpin dan memelihara mereka secara pribadi dan pasti. Ketiga, Keilahian Kristus (Deitas Christi) bdk Yohanes 10:30, di mana kesatuan Yesus dengan Bapa menegaskan bahwa Sang Gembala bukan sekadar utusan Allah, melainkan Allah sendiri yang berinkarnasi, berotoritas ilahi, dan berkuasa memberikan hidup kekal, itulah makna-makna Kristologi yang sangat tinggi dari perikop tersebut. Amin (SM)