BERTINDAKLAH DENGAN SEKSAMA KARENA BERLAKU CURANG, MEMIHAK ATAU MENERIMA SUAP TIDAK ADA PADA TUHAN ALLAH KITA | 2 TAWARIKH 19:4-11 | Pdt. Belly F. Pangemanan M.Th
Sobat Obor, Menjadi seorang pemimpin bukan hal yang mudah karena selain menjadi faktor penentu bagi kemajuan dan keberlanjutan suatu organisasi, segala tindakan baik berupa kebijakan maupun keputusan yang diambil seorang pemimpin akan memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan banyak orang. Namun sayangnya, menjadi seorang pemimpin kerap disalahpahami sebagai sang empunya kekuasaan, yang seolah-olah memiliki privilege penuh untuk memerintah. Bahayanya lagi, kekuasaan tersebut secara politis digunakan untuk mendominasi orang lain tanpa memperhatikan dampaknya terhadap keberlanjutan organisasi di masa yang akan datang. Padahal, dalam memajukan organisasi seorang pemimpin tidak mungkin bekerja sendirian, melainkan bersama tim . Ada ungkapan “Tidak ada satu orang pun yang berhasil meraih keberhasilan tanpa bantuan dari orang-orang lain”. Oleh karena itu, dari pemahaman ini, kita bisa mengambil suatu pelajaran penting tentang kualitas pemimpin yang baik, salah satunya adalah kemampuan mendengarkan pendapat orang lain yang bisa digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan dalam hal pengambilan keputusan yang tepat. Pemimpin dapat kita jumpai di manapun. Tidak hanya di dunia perpolitikan, tetapi dunia pendidikan, ekonomi, agama, dan bahkan dalam keluarga. Pemimpin ada di segala bidang kehidupan. Pertanyaannya, pemimpin seperti apa yang kita harapkan dan impikan? Ada banyak harapan yang terpendam dalam benak kita, namun salah satunya, yaitu: “Pemimpin yang mau mendengarkan”. Sulit untuk menjadi telinga bagi orang lain, yang dengan sabar, tenang dan setia mendengarkan keluh kesah, harapan dan impian, serta masukan dan kritikan dari orang lain. Demikian pula menjadi pemimpin yang mau mendengarkan adalah tugas yang sulit dan berat.
Dalam bacaan sebelumnya, Yosafat ditegur karena bersekutu dengan Ahab dan menolong musuh Allah ini (bd. 2 Taw 18:1-34). Orang percaya hendaknya jangan bersekutu dengan orang-orang tak percaya jikalau di
dalam hubungan itu kepentingan ketidakbenaran dimajukan, komitmen kita kepada Allah dibahayakan atau kebenaran Firman Allah dicemarkan. Secara spesifik respon Yosafat atas teguran itu tidak dijelaskan. Namun tindakan yang dilakukan Yosafat seperti mengunjungi rakyatnya di daerah-daerah, bahkan yang berada di wilayah pegunungan (4). Dan sebagai raja yang mengasihi Tuhan, ia mendorong rakyatnya untuk hidup benar. Menyadari bahwa ia perlu menjalankan pemerintahan yang benar, ia mengangkat hakim-hakim (5) dengan disertai perintah bahwa mereka harus melakukan pekerjaan dengan mengingat bahwa mereka bekerja bagi Allah, bukan bagi manusia. Sebab itu mereka tidak boleh curang atau menerima sogokan (6-7). Menunjuk beberapa orang Lewi, imam, dan kepala puak untuk menangani masalah rakyat, berkaitan dengan penerapan hukum Tuhan dan perselisihan (8). Menjadi suatu pertanda bahwa ia mendengar nasihat untuk tidak berkompromi dengan yang jahat. Mereka harus bekerja berdasarkan rasa takut akan Tuhan, setia, dan tulus (9).
Di sini menunjukkan kepada kita bahwa sekalipun Yosafat mempunyai jabatan dan kedudukan yang dipegang, setinggi apapun ia tidak boleh menjadikan individu tersebut kebal dengan teguran dan nasihat. Kita tentu mengerti seorang pemimpin, siapa pun dia, memiliki nurani kemanusiaan yang bisa tersentuh dengan ucapan yang baik. Yaitu, ucapan yang lembut, tidak memusuhi, dan berbaik sangka. Karena inti dari nasihat dan teguran adalah bukan sekadar sampainya pesan kepada yang dituju, tapi juga bisa diterima dengan baik. Teguran yang bijak boleh jadi akan membuka sekat subjektif seorang pemimpin bahwa ternyata ada ide yang lebih baik dari apa yang ia pikirkan, dan ada hal buruk yang tidak ia sadari. Sering kali kita merasa tidak nyaman ketika mendapat teguran atau nasihat. Ada perasaan tersinggung, malu, atau bahkan marah. Sebenarnya itu hal yang lumrah. Akan tetapi, jika kita renungkan lebih dalam, teguran yang disampaikan kepada kita dengan niat baik merupakan bentuk kepedulian dan kasih sayang dari sang penegur atau pemberi nasihat. Orang yang tidak peduli dengan kita mungkin akan acuh tak acuh dan membiarkan kita dalam kesalahan tanpa memberikan peringatan. Sebaliknya, seseorang yang menegur kita dengan niat baik sebenarnya menginginkan kita mengalami perubahan dan menjadi pribadi yang lebih baik. Amin (BFP)

