PANGGILAN KASIH | MATIUS 20:1-2
Sobat Obor, setiap pagi di pasar-pasar kecil Palestina, para pekerja harian berdiri menunggu giliran mereka di panggil kerja. Mereka tetap setia sekalipun tidak ada jamiman kerja, tidak ada kepastian mendapatkan makanan. Hidup mereka sangat bergantung pada belas kasihan orang lain. Dalam keadaan seperti inilah Yesus memulai perumpamaan tentang tuan kebun anggur. Seorang tuan keluar pagi-pagi benar untuk mencari pekerja. Tindakan sang tuan bukan sekadar mencari tenaga, tetapi menggambarkan kasih Allah yang aktif mencari manusia. Tuan kebun itu adalah lambang Allah yang tidak pernah berhenti mencari orang untuk masuk dalam pekerjaan-Nya. Artinya, Allah tidak menunggu kita datang, tetapi Ia sendiri yang datang mencari kita.
Sobat obor, ayat ini tampak sederhana, namun menyimpan makna yang dalam. Ketika sang tuan kebun “keluar pagi-pagi benar,” ia menunjukkan inisiatif kasih. Ia tidak duduk diam menunggu siapa yang datang, tetapi turun langsung mencari mereka yang butuh pekerjaan, mereka yang butuh hidup. Inilah gambaran Allah yang turun mencari kita ketika kita belum layak, bahkan belum sempat meminta. Satu dinar sehari adalah upah yang cukup untuk hidup. Ini berarti Allah tidak pernah memberi kurang dari yang kita butuhkan. Upah itu bukan sekadar angka, tapi tanda kesetiaan-Nya: Allah memberi hidup yang cukup, kasih yang cukup, dan anugerah yang penuh.
Sobat obor, tindakan sang tuan yang “mengajak” para pekerja adalah panggilan Allah bagi setiap kita. Tuhan mengundang kita, kaum muda, untuk masuk ke kebun anggur-Nya yaitu dunia yang luas, penuh tantangan, tetapi juga penuh kesempatan untuk melayani. Ia memanggil bukan karena kita sempurna, melainkan karena Ia melihat potensi kasih di dalam kita. Tentu kisah ini mengingatkan kita bahwa menjadi pengikut Kristus bukan hasil ambisi pribadi, melainkan tanggapan atas panggilan kasih Allah. Ia mencari kita lebih dulu, Ia mengajak kita bekerja di ladang-Nya, dan Ia menjanjikan upah yang cukup bagi setiap orang yang taat. Karenanya, sebagai orang muda, marilah kita menyambut panggilan itu dengan sukacita. Amin (MT)

