IMITATIO DEI | EFESUS 5:1-2

Sobat Obor, istilah Imitatio Dei berasal dari bahasa Latin yang berarti “peneladanan terhadap Allah.” Secara teologis, konsep ini mengakar dalam keyakinan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (imago Dei, Kej. 1:26–27). Karena itu, manusia dipanggil untuk mencerminkan karakter dan tindakan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam tradisi Alkitab, Imitatio Dei bukan berarti manusia berusaha menjadi Allah, tetapi hidup menyerupai-Nya dalam kasih, kekudusan, dan kebenaran.

Sobat obor, Paulus membuka pasal ini dengan seruan yang mendalam: “Jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih, dan hiduplah di dalam kasih.” Dalam bahasa Yunani, kata mimētai tou Theou berarti “peniru Allah” — dari sinilah lahir istilah teologis Imitatio Dei, yakni panggilan untuk meneladani karakter Allah dalam kehidupan nyata. Menurut tafsiran biblika, konteks ayat ini melanjutkan tema kehidupan baru dalam Kristus (Ef. 4:22–32): orang yang telah ditebus kini dipanggil bukan hanya meninggalkan dosa, tetapi mencerminkan kasih dan kekudusan Allah dalam relasi dengan sesama. Dasar teladan itu adalah kasih Kristus yang “telah mengasihi kita dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” Kasih itu bukan perasaan sentimental, tetapi tindakan pengorbanan aktif.

Pandangan teologi Reformed menekankan bahwa Imitatio Dei bukan usaha manusia untuk menjadi seperti Allah melalui kekuatan diri, melainkan respons syukur atas karya anugerah. Calvin menulis bahwa “tidak ada jalan yang lebih baik untuk menghormati Allah daripada meniru kebaikan-Nya yang telah kita terima.” Roh Kuduslah yang memperbarui hati sehingga orang percaya dapat meneladani kasih Kristus dalam hidup sehari-hari.

Sobat obor, renungan hari ini memberikan pesan firman bagi kita semua sebagai pemuda Kristen untuk menjadikan kasih sebagai gaya hidup di sepanjang tahun baru 2026 ini — bukan kasih yang egois atau sementara, tetapi kasih yang aktif, tulus, dan memberi tanpa pamrih. Dalam dunia yang sering menonjolkan popularitas dan pencapaian pribadi, pemuda dipanggil untuk tampil berbeda: hidup dengan kasih yang memuliakan Allah, menjadi “teladan” di lingkungan sekolah, kampus, pekerjaan, dan pergaulan. Dengan demikian, hidup kita menjadi kesaksian nyata tentang kasih Allah yang berkarya lewat setiap karya kita. Amin (SM)