LUST OF THE FLESH | EFESUS 5:3-7
Sobat Obor, dalam dunia modern yang memuja kenikmatan dan kebebasan tanpa batas, godaan “lust of the flesh” (nafsu daging) menjadi ancaman rohani yang nyata bagi pemuda Kristen. Ada begitu banyak dosa akibat “lust of the flesh” yang membuat pemuda Kristen nyaman tinggal di dalam dosa padahal tanpa disadari itu membuat kita berjalan menuju kebinasaan.
Renungan hari ini dalam Efesus 5:3–7 dengan tegas memperingatkan agar “percabulan dan segala kecemaran atau keserakahan”. Seruan ini tidak sekedar moralistik, tetapi bersifat teologis — mengakar pada identitas baru orang percaya sebagai anak-anak terang (ay. 8). Dalam bahasa Yunani, kata porneia (ayat 3) mencakup segala bentuk penyimpangan seksual, sedangkan akatharsia berarti kenajisan moral yang mencemarkan hati dan pikiran. Paulus menegaskan bahwa dosa seksual bukan sekadar pelanggaran etis, tetapi pemberontakan terhadap kekudusan Allah yang telah menebus tubuh dan jiwa.
Dalam tradisi Reformed, Calvin menafsirkan bahwa Paulus ingin umat Allah “menyadari tubuh mereka bukan milik sendiri, tetapi bait Roh Kudus.” Karena itu, setiap bentuk hawa nafsu yang menomorsatukan keinginan diri di atas kehendak Kristus adalah bentuk penyembahan berhala. John Stott menambahkan bahwa dosa seksual dan keserakahan memiliki akar yang sama yaitu cinta diri yang berpusat pada kenikmatan pribadi, bukan pada kasih yang rela berkorban.
Sobat obor, renungan ini memberi pesan firman bagi pemuda Kristen, untuk hidup dengan integritas dan kekudusan di tengah budaya yang menormalisasi dosa. Kekudusan bukan pengekangan, tetapi kebebasan sejati, kebebasan untuk mengasihi tanpa menajiskan, untuk memanfaatkan tubuh tanpa diperbudak nafsu. Paulus menutup bagian ini dengan peringatan keras: “Karena hal-hal inilah murka Allah turun atas orang- orang durhaka” (ay. 6). Namun bagi mereka yang hidup dalam terang kasih Kristus, ada kuasa pembaruan. Maka, jadilah pemuda yang menolak “lust of the flesh,” bukan dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan hati yang telah ditawan oleh kasih Kristus, sebab hanya kasih sejati yang mampu menaklukkan hawa nafsu. John Calvin : “Hidup dalam kekudusan bukan berarti kehilangan kebebasan, tetapi menemukan kebebasan sejati dalam sikap tunduk kepada Kristus.” Amin (SM)

