MEGASIHI SAUDARA ADALAH WUJUD HIDUP DI DALAM TERANG | 1 YOHANES 2:7-17 | Pdt. Meifira Tanor, M.Th

Sobat Obor, Kasih merupkan kata yang mudah diucapkan, tapi sering paling sulit dijalani. Di zaman yang penuh komentar pedas, sindiran di media sosial, dan persaingan di mana-mana, kasih terasa seperti barang langka. Yohanes, rasul yang sudah lanjut usia ketika menulis surat ini, melihat hal serupa di jemaat mula-mula. Mereka rajin beribadah, tetapi mulai kehilangan kasih di antara sesama. Maka ia menulis dengan lembut namun tegas: “Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang.” Yohanes tidak sedang memperkenalkan ajaran baru. Ia hanya mengingatkan sesuatu yang sudah lama mereka tahu sejak pertama kali mengenal Kristus. Ajaran bahwa mengasihi adalah inti dari hidup orang percaya. Tapi kasih itu tidak boleh berhenti di kata- kata; harus nyata dalam tindakan.

Dalam terang Kristus, kasih adalah bukti bahwa seseorang sungguh mengenal Allah. Yohanes menulis, “Barangsiapa mengatakan bahwa ia hidup di dalam terang, tetapi membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.” Artinya, terang bukan soal berapa lama kita ikut Tuhan, tapi apakah kasih itu hidup di dalam kita. Gelap yang dimaksud Yohanes bukan sekadar malam tanpa cahaya, tetapi hati yang tertutup oleh kebencian, iri, dan keegoisan. Orang bisa saja hafal ayat, aktif di pelayanan, tapi kalau hatinya dingin terhadap sesama, ia sedang berjalan dalam gelap tanpa sadar.

Yohanes memakai kata Yunani agape yaitu kasih yang memilih untuk bertindak, bukan sekadar merasa. Kasih ini tidak menunggu orang lain berubahbaru mau mengampuni, tidak menuntut syarat untuk berbuat baik. Ia lahir dari hati yang telah disentuh oleh kasih Allah.

Sobat obor, pesan Yohanes ini sangat relevan dalam kehidupan kita. Dunia sekarang sering mengukur nilai seseorang dari penampilan, prestasi, atau popularitas. Namun terang Kristus memanggil kita untuk melihat lebih dalam: bagaimana kita memperlakukan sesama. Apakah kita mudah memaafkan? Apakah kita peduli pada teman yang sedang jatuh? Apakah kita tulus menolong tanpa berharap dipuji? Dalam ayat 15–17, Yohanes memperingatkan: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya.” Dunia yang dimaksud bukan bumi ciptaan Tuhan, tetapi sistem nilai yang menolak kasih. Dunia yang dikuasai keangkuhan, keinginan mata, dan kesombongan hidup. Dunia berkata, “utamakan dirimu,” tapi kasih berkata, “utamakan sesamamu.” Dunia berkata, “balas dendam kalau disakiti,” tapi kasih berkata, “ampunilah, sebab engkau pun telah diampuni.”

Yohanes tahu betul bahwa tanpa kasih, terang akan padam. Ia menyadari, setelah hidupnya dekat dengan Yesus, ia belajar bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemarahan, melainkan pada kasih. Itulah sebabnya surat-surat Yohanes terasa begitu lembut, penuh nada penggembalaan. Ia berbicara seperti ayah yang menasihati anaknya: “Hai anak-anakku, aku menulis kepadamu, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya.” (ay.12) Ia ingin agar setiap orang percaya menyadari bahwa kasih bukan perintah berat, tetapi bukti hidup baru. Orang yang hidup dalam terang tidak dikuasai oleh dendam, karena kasih Allah telah menyalakan pelita di dalam hatinya. Ia berjalan dengan damai, meski dunia di sekitarnya gelap.

Sobat obor, mungkin ada seseorang yang membuatmu marah, kecewa, atau sakit hati. Tapi di hadapan Kristus, kita semua adalah orang yang telah dikasihi lebih dulu. Maka ketika kita memilih untuk mengasihi, kita sedang membiarkan terang Kristus mengalir melalui hidup kita. Hidup di dalam terang berarti membiarkan kasih itu nyata. Kasih dihidupi dalam kata yang lembut, dalam kesediaan mengampuni, dalam kepekaan terhadap mereka yang terluka. Dunia boleh gelap, tapi terang Kristus tidak akan padam selama ada hati yang mau mengasihi. Karean itu, kita diajak menjadi generasi pembawa terang. Sehingga kasih Kristus terpancar lewat tindakan kita setiap hari. Baik di media sosial, di rumah, di sekolah, di pelayanan. Sebab tanda orang yang hidup di dalam terang bukanlah hanya seberapa banyak ia tahu tentang Tuhan, tetapi seberapa dalam ia mengasihi sesama. Amin (MT)