KRISTUS TERBAGI-BAGI? | 1 KORINTUS 1:13
Sobat Obor, adakah Kristus terbagi-bagi? Demikian ucap Paulus! Rasul Paulus mengingatkan bahwa yang harus menjadi fokus utama jemaat adalah Kristus. Meskipun berbeda golongan para tokoh pemberita Injil Kristus semuanya adalah alat Kristus untuk menyampaikan kebenaran Firman Allah. Sehingga di tengah perbedaan golongan, jemaat seharusnya tetap seia sekata, erat bersatu dan sehati sepikir dalam Yesus Kristus; agar lebih tangguh dalam menjalani pelayanan. Bagaimana cara bersatu di tengah perbedaan? Kuncinya: jadikan Yesus sebagai “Pusat Kehidupan”. Bacaan Alkitab ini adalah seruan untuk menyingkirkan kesombongan yang egois demi mengejar persatuan yang berpusat pada Kristus. Ini adalah seruan bagi tubuh Kristus untuk bertindak seperti Kristus. Oleh karena itu, seruan untuk mengejar persatuan mencakup, tetapi juga lebih dalam dari sekadar masalah permukaan, yaitu sampai ke hati. Persatuan bukanlah kesepakatan bersama untuk saling mentolerir perbedaan satu sama lain. Tidak, persatuan yang harus kita kejar sebagai anggota tubuh Kristus adalah persatuan dalam perkataan, pemikiran, dan bahkan pendapat.
Bagaimana kita menjalani hidup selama ini? Apakah masih sering diwarnai percekcokan dengan anggota keluarga, saudara dalam persekutuan, dengan tetangga di tengah masyarakat luas? Percekcokan yang tidak sehat: apabila frekuensinya dan intensitasnya tinggi, itu bukan lagi menjadi bunga dalam kehidupan, melainkan benalu yang bisa mematikan. Jelas ini tidak baik untuk tumbuh kembang sebuah persekutuan. Berhentilah secepatnya sebelum pertengkaran itu menjadi tidak terkendali. Ego, keangkuhan, sikap tidak mau kalah pun bisa menimbulkan pertengkaran. Juga dalam pikiran kita masing-masing mari kita tanamkan: menghindari pertengkaran harus dilakukan secepatnya sebelum menjadi bola api yang menghanguskan banyak orang, termasuk kita sendiri. Hiduplah dalam kasih dan damai dengan sesama, semesta, dan semua ciptaan Tuhan. Dengan demikian, kesatuan akan terwujud jika kita memandang Yesus sebagai satu-satunya pemersatu kita. Yesus harus menjadi pusat lebih tinggi dari pendapat maupun tradisi kita. Kita harus meninggikan Dia di atas segala sesuatu. Amin (BFP)

