KEPASTIAN MELANGKAH | MARKUS 14: 32-33
Sobat Obor, Taman Getsemani adalah sebuah taman di kaki bukit zaitun Yerusalem. Kata Getsemani muncul pada injil Matius dan Markus. Kata ini berarti ‘alat pemeras dan penghasil minyak”. Di dalam Yerusalem memang tidak ada taman. Kota itu padat. Disana berlaku hukum bahwa tanah kota kudus tidak boleh di kotori dengan pupuk untuk taman. Namun beberapa orang kaya memiliki taman pribadi di luar kota, di bukit Zaitun. Disana mereka biasanya beristirahat. Sebagaimana yang dilakukan Yesus dan murid-muridNya, saat Ia menginginkan persekutuan diriNya dengan Allah dalam kesunyian dan keteduhan.
Taman Getsemani menjadi saksi keyakinan Yesus. Bahwa pada saat itu sebenarnya ia masih boleh memilih. Tak ada yang memaksa, tak satupun membuat Ia terpaksa. Di taman itu kita menyaksikan Yesus dengan iklhlas menerima kehendak Allah. Keiklhlasan yang menentukan nasib dan masa depan seluruh umat manusia. Bagi Yesus taman Getsemani adalah “point of no return”. Artinya, setelah dilahirkan seorang hanya dapat maju dan hidup. Tak mungkin kembali ke rahim ibu. Sekali Yesus telah melangkah dan mengambil keputusan yang pasti, tak ada isitilah mundur atau lari. Yang ada hanyalah maju menghadapi penderitaan yang menjadi bagian hidupNya.
Sobat obor, titik-titik penting dari hidup kita juga merupakan “point of no return” Setiap pesawat udara yang sudah lepas landas, pada suatu saat akan mencapai sebuah titik yang disebut “point of no return”. Artinya titik dimana sudah tidak dapat kembali lagi. Ia hanya dapat maju dan tidak dapat mundur lagi. Setiap detik dalam hidup kita adalah “point of no return”. Ia lewat, tak mungkin terulang kembali. Karenanya, pergunakalah hidup yang Tuhan beri. Anugerah keselamatan yang begitu berharaga jangan kita sia-siakan. Masa muda janganlah di buang percuma. Sebab hidup terus berlanjut sampai pada titik dimana kita mampu mengambil komitmen untuk terus melangkah dengan keyakinan, bahwa Allah menolong dan menjaga kita. Saat Yesus mengambil kepastian untuk tetap melangkah, Ia tahu sang Bapa tidak akan membairkan AnakNya menangis dengan percuma. Amin (MT)

