KETIKA YESUS TERSUNGKUR | MARKUS 14: 34-35

Sobat Obor, Kita dapat membayangkan, bahwa di taman Getsemani itu, Yesus berada dalam kesunyian dan kesepian yang dalam. Kita juga dapat membayangkan keresahan apa dan kegelisahan apa yang merasuk dan berkecamuk di benak Yesus. Siapa yang ingin mati pada usia 33 tahun? Tak seorangpun, kalau memang boleh memilih. Siapa yang ingin mati di atas kayu salib? Tak seorangpun, kalau boleh memilih. Tak seorang pun bersedia mati, ketika masih begitu sedikit yang telah dikerjakan dan masih begitu banyak yang harus dikerjakan, kalau saja boleh memilih! Kita dapat membayangkan apa yang bergelut dan bergulat dihati Yesus, di taman Getsemani pada malam itu. Ia tahu salib adalah kehendak Allah. Ia tahu cawan apa yang di sediakan Bapa bagiNya. Tapi mengapa mesti salib, mengapa mesti cawan? Di taman Getsemani terjadi pergumulan hebat antara Allah dan manusia. Lebih hebat dari pergumulan antara Yakub dan Allah di tepi sungai Yabok. Sebab tidak ada yang lebih meresahkan dan menggelisahkan dari pada kita tahu apa yang Tuhan kehendaki, tapi sulit memahami mengapa justru itu yang Ia kehendaki, dan bukan yang lain? Namun di taman itu kita justru menyaksikan Yesus dengan iklhas menerima kehendak Bapa. Keikhlasan yang menentukan nasib dan masa depan seluruh umat manusia. Sobat obor, tahukah kita bahwa di pusat dari angin silikon atau taufan yang ganas, ada ketengan dan kedamaian? Nahkoda kapal yang berpengalaman tidak akan berusaha melawan arus, atau berusaha keluar dari pusaran angin tersebut. Sebaliknya ia akan membawa kapalnya berputar mengikuti arah pusaran angin, menuju titik pusat. Sebab justru disitu ada ketenangan dan kedamaian. Oleh karena itu melawan kehendak Allah adalah laksana melawan pusaran angin silikon. Kita akan terhempas dan hancur. Sehingga yang bijaksana adalah justru kita dengan sadar mengikutinya. Bagi Yesus inilah satu-satunya cara untuk mengerti rencana Allah. Dengan demikian Ia megerti pula hakikat diriNya, tujuan misi-Nya. Karenanya Ia tersungkur. Amin (MT)